Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

About

Mengenai Saya

Foto saya
Bijaksana, baik hati, sederhana, dan terkadang humoris

Pengikut

Senin, 02 Agustus 2010


Karangan cerita karya: Tira Risyadi

Cerita ini hanya karangan belaka bila ada kesamaan dalam alur cerita kisah ini, itu hanya kebetulan saja...




Kini Ridwan jalani hidup seorang diri, rumah yang ia tempati hanya dia seorang. Tiada siapapun di rumah itu kecuali Ridwan dan potret almarhummah istrinya, yang masih terpajang rapi di dinding. Sesekali ia sering memandang potret istrinya itu, dengan pandangan penuh rasa rindu yang menyelimuti kenangan indah saat bersamanya. Sehabis sholat Ridwan tak luput berdoa mengalir lembut dari mulutnya, agar istrinya itu di tempatkan sebaik-baiknya tempat di sisi Allah SWT. Apabila Ridwan tengah seorang diri, ia selalu ingat pada istrinya, bahkan sering terucap dalam hatinya, "Andai saja anak yang di kandung istriku tidak ikut bersama ibunya, aku akan mengurus anakku penuh kasih sayang dan ketulusan dalam merawatnya. Dan mungkin aku tak terlalu kesepian dengan jalan hidupku." Setiap alunan bisik hati itu keluar, Ridwan acapkali meneteskan air mata sembari tersenyum penuh rasa puas, meski hal itu sebatas suara dalam hatinya. Dan setiap hendak berangkat kerja, pandangan matanya selalu tertuju pada bingkai foto istrinya sambil tersenyum, bahkan sekalipun tiap pulang kerja, ketika masuk rumahnya yang pertama ditatapnya ialah potret istrinya lagi sembari tersenyum kembali. Seolah-olah rasa kasih sayang dan rindunya tiada pernah putus ia berikan sepenuhnya untuk almarhummah istrinya, tak lekang waktu hingga akhir usianya... Meski Ridwan hidup dalam kesendiriaan, ia tak pernah mengeluh, ia selalu menjalani hidupnya penuh senyuman dan kebahagiaan yang tersembunyi di balik hatinya. Ketika Ridwan jatuh sakit dan setiap Ridwan sakit ia merawat dirinya sendiri. Meski dalam keadaan tubuhnya lemas dan lemah tak bertenaga, walau demikian Ridwan tak pernah mengabaikan kewajibannya untuk menunaikan ibadah sholat, Meski terkadang sholatnya dalam kedaan berbaring di tempat tidurnya. Di rumah Ridwan yang sederhana itu, ia tak mempunyai seorang pembantu maka dari itulah segala sesuatunya dikerjakan sendiri. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, cuci piring, dan cuci bajunya sendiri hingga memasak pun ia lakukan sendiri. Banyak tetangganya yang merasa iba serta kagum kepada sosok seorang Ridwan, bahkan tidak sedikit tetangga yang menawarkan untuk menikah dan mencarikan calon untuknya. Namun setiap saran itu Ridwan selalu berkata bahwa ia masih ingin menjalani hidup sendiri. Dan para tetangga pun bisa memahaminya meski mereka selalu penuh tanda tanya. Kenapa setiap jawaban Ridwan selalu begitu, meski jawabannya selalu demikian, para tetangga tak pernah berprasangka buruk terhadapnya, karena di mata mereka Ridwan itu sosok orang yang baik meski terkadang sedikit aneh. Karena tidak seperti laki-laki pada umumnya yang biasanya, laki-laki yang ditinggalkan oleh istrinya ia akan menikah lagi, sedangkan Ridwan tidak seperti itu. Yang menyarankan untuk menikah lagi ternyata bukan dari tetangga saja, melainkan dari rekan kerjanya, mertuanya, bahkan kedua orang tuanya sendiri, tapi Ridwan selalu menjawab seperti itu... Suatu ketika Ridwan dipindahkan lagi kerjanya ke Jakarta. Saat mengemasi barang-barang bawaanya untuk ke Jakarta, yang ia dahulukan adalah potret istrinya, ia masukan ke kopor bawaanya dengan penuh perasaaan dan secara perlahan-lahan, sesekali ia pandang terus potret tersebut seakan tak pernah jemu untuk memandanginya. Di Jakarta untuk sementara, ia tinggal di rumah kedua orang tuanya, karena Ridwan berencana untuk membangun rumah lagi di sebelah rumah orang tuanya... Saat Ridwan datang ke rumah kedua orang tuanya, kakak-kakaknya Ridwan sudah ada di rumah orang tua Ridwan, mereka menyambut penuh senyum dan kebahagiaan, terkecuali ibunya Ridwan, ia bukannya senang melihatnya anaknya, setibanya dari Bandung. Pada dasarnya ibunya itu bahagia dengan kedatangan Ridwan, namun karena ingat akan kejadiaan masa lalu dalam rumah tangga Ridwan, hingga sang ibu menangis. Lalu Ridwan mencoba untuk mendekati ibunya seraya berkata pada ibunya, "Ibuku tercinta... Kenapa ibu menangis?" Ibunya menjawab, "Ibu hanya ingat almarhummah istrimu... Mestinya kau datang ke sini bersama menantu dan cucuku." Ridwan pun berkata pada ibunya, "Sudahlah, bu... Ini semua udah kehendak Allah dan kita wajib menerimanya dengan ikhlas." Ketika Ridwan berkata demikian, ia sembari mengusap air mata berlinang di kedua pipi ibunya dengan kedua lengannya. Setelah itu ibunya tersenyum pada Ridwan, seakan tangisan itu mesti ditahan agar tidak larut dalam kesedihan... Enam bulan kemudian, rumah baru Ridwan sudah selesai di bangun di samping rumah orang tuanya. Seperti biasanya tiap berangkat dan sepulang kerja, Ridwan tak pernah absen untuk memandang potret istrinya. Karena bagi Ridwan dengan selalu memandang potret istrinya, ia merasa lebih bersemangat lagi dalam menjalani hidupnya. Saat ini beban dalam kesendiriaanya sedikit berkurang karena ia tinggal bersebelahan dengan rumah orang tuanya... Secara bersamaan pula, ternyata Farida tidak mempunyai kanker otak lagi, ia berhasil dioprasi oleh para medis di rumah sakit Singapura. Namun kabar hal ini, tidak banyak orang lain tahu termasuk Ridwan begitupun kedua orang tuanya... Di suatu hari, ibu Ridwan tak pernah berhenti memberi saran pada Ridwan, agar ia menikah lagi dengan alasan tidak baik menjalani hidup seorang diri , karena itu perlu seorang pendamping, namun Ridwan selalu menjawab kalau ia ingin hidup sendiri dengan alasan demi mempertahankan cinta utuhnya terhadap almarhummah istrinya. Ibunya sangat memehami karakter anaknya, ia pun segera berpaling dari hadapan Ridwan, lalu masuk ke kamarnya sembari meneteskan air mata dan berdoa agar Ridwan menikah lagi dan segera punya cucu darinya. Ibunya berdoa demikian, karena ia sangat menginginkan cucu dari anak terakhirnya yaitu Ridwan. Dan doa itu selalu terniang sehabis ibunya sholat. Berdoa seperti itu bukan hanya ibunya Ridwan saja, bahkan mertua ibunya almarhummah Nadia. Saking sayang terhadap Ridwan seperti anaknya sendiri, ibu Nadia pernah bilang pada Ridwan, seandainya Nadia punya adik perempuan, mungkin akan dinikahkan dengan Ridwan, tapi nyatanya Nadia tidak mempunyai seorang adik perempuan. Ketika ibu Nadia bilang demikian, Ridwan hanya sanggup tersenyum saja pada ibunya Nadia, tanpa ucapkan sepatah kata pun... Suatu ketika, secara diam-diam ibu dan ayah Ridwan bersilaturohim ke rumah Farida. Dan ibu Farida sudah tahu tentang kabar Farida, hingga Farida saat ini sudah sembuh total dari kanker otaknya dan ia juga belum menikah, akan tetapi setahun yang lalu sudah bertunangan dengan pemuda bernama Mukhlis asal Bandung yang bekerja di Jakarta. Namun Mukhlis mengalami kecelakaan saat mengemudi kendaraannya tertabrak oleh mobil bus, hingga ia meninggal dunia. Saat mendengarnya ibu dan ayah Ridwan turut berduka cita atas kejadian itu... "Namun sayang sekali meski demikian, lagipula Ridwan belum tentu akan menikah lagi." Bisik ibu Ridwan dalam hatinya. Farida pun mulai tahu tentang keadaan Ridwan. Ia tahu dari ibu Ridwan yang menceritakan semuanya kepada ibu Farida dan juga Farida. Lalu ibunya Ridwan bertanya kepada Farida, "Apakah nak Farida, masih mencintai anakku Ridwan?" Farida tersipu malu, bahkan ia tak menjawabnya, malahan Farida hanya memberi senyuman pada ibunya Ridwan. Dan setelah itu ibunya Ridwan, tak membahasnya lagi karena hal itu masalah pribadi Farida. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan penuh dengan suka cita antara ibunya Ridwan dan ibunya Farida. Lalu ibu dan ayah Ridwan berpamitan untuk pulang... Ketika Ridwan sepulang kerja, ibunya Ridwan menghampiri Ridwan dan bertanya padanya, "Bagaimana kalau kamu menikah dengan Farida?" Saat mendengarnya, kala itu Ridwan tengah mereguk teh hangat buatannya sendiri, ketika meminum teh hangat dalam cawan berwarna hitam pekat, lalu Ridwan melirik ibunya tanpa melepaskan cawan itu dari bibirnya. Mungkin karena Ridwan merasa sesutau hal yang aneh, karena selama ini nama itu tak pernah ingat lagi di benaknya. Hingga saat mendengar nama itu, Ridwan tak menjawab apapun pada ibunya. Ia hanya bilang pada ibunya, kalau dia meminta izin untuk mandi, setelah keringat yang nempel di tubuhnya selama pulang kerja, membuat ia merasa tak nyaman. Ibunya merasa heran dan bicara dalam hatinya, "Kenapa saat bilang nama Farida... ia tak menjawab apapun, padahal setiap disebut nama lain, ia selalu bilang begitu dan begitu! Apakah mungkin anakku masih menyukai Farida?! Entahlah hanya anakku yang tahu! Tapi, sudahlah aku tak perlu membahasnya lagi, takutnya anakku bertambah sedih dengan keadaanya sekarang." Ibunya bicara dalam hatinya seperti itu, karena ia takut menambah beban anaknya, hingga ibunya merasa tak perlu membahas soal pernikahan lagi pada Ridwan. Yang terpenting jikalau dia merasa senang dalam kesendirian, ibunya turut bahagia... Suatu ketika pada hari minggu, kedua orang tua Farida serta Farida berkunjung ke rumah orang tua Ridwan. Dengan maksud bertujuan hendak menikahkan Farida dengan Ridwan, agar Ridwan tidak lagi menjalani hari-harinya seorang diri. Setelah itu Ridwan dan Farida mengobrol secara empat mata. Ridwan pun bertanya pada Farida, "Kenapa kamu ingin menikahiku?" Lalu Farida tersenyum dan menjawabnya, "Karena aku tahu tentang dirimu...! Andai saja aku tak melakukan hal ini, pasti hidupmu akan terus dilalui dengan kesendirian. dan aku tahu, dirimu berniat tak ingin menikah lagi, karena kamu berniat setia dunia akhirat terhadap almarhummah istrimu." Farida tahu tentang Ridwan begitu, karena ibu Ridwan pernah menceritakan pada Farida. Dan saat itu juga, Ridwan menanyakannya tentang hal itu, lalu Farida pun menjelaskannya bahwa ia pernah bertemu dengan ibunya Ridwan. Lalu Farida berkata pada Ridwan, "Kenapa saat itu kamu gak bertanya padaku?! Apakah aku ingin dipolygami? Andai saja kamu berkata demikian... Maka aku akan menjawabnya saat itu juga dengan kata "ya"... Tapi saat itu kamu tidak menanyakannya padaku..." Setelah mendengarnya, Ridwan hanya tersenyum kagum terhadap Farida. Ridwan bertanya pada Farida, "Kenapa kalau sudah tahu aku ingin setia dunia akhirat, kamu malah hendak ingin melemar dan menikahiku?" Farida menjawab, "Kamu boleh menikahiku dengan batasan tertentu, yaitu aku bisa memiliki dirimu secara halal hanya di dunia saja, sedangkan di akhirat kelak hanya milik anakmu dan istrimu." Ridwan terdiam sejenak dan terpaku dengan ucapan Farida itu. Karena Ridwan tak sedikitpun mengira Farida akan berkata demikian padanya. Setelah termenung sejenak Ridwan berkata, "Aku mau menikah denganmu dengan syarat, kau juga boleh tinggal di akhirat kelak. Insya Allah, Amin Ya Robbal 'alamin..." Lalu mereka berdua tersenyum indah penuh kebahagiaan....



TAMAT
Jumat, 26 Maret 2010




Di balik awan putih
Indah terlena
Di balik awan putih
Indah mempesona


Di balik awan putih
Lambaikan harapan
Di balik awan putih
Mengundang penasaran


Binar matanya
Penuh ketulusan
Paras indahnya
Penuh kelembutan


Andai terdampar dalam pilihan
Dirinya yakin hanya dia seorang
Persamaan dalam visi misi dibutuhkan
Bagaimana memandang segi kehidupan


Andai terdampar untuk dipilih
Panjatkan doa penuh tawadhu
Andai tercipta tiada terpilih
Dirinya ikhlas sepenuh hati
Tiada noda terbawa arus keindahan


Sekeping doa indahnya
Bertahan dalam harapan

Sekeping doa indahnya
Bertahan dalam senyuman

Tiada pernah luntur
Dalam kisah separuh

Bulan terbelah rata
Menanti bulatan indah

Sabar dalam harapan
Sabar dalam penantian




Selasa, 23 Maret 2010



Indahnya sang surya...

Terkadang menghangatkan
Terkadang menyejukan
Terkadang panas membara

berjuang seorang diri
berjuang setulus hati
Sesekali berubah pesat
Ambisi, arogan dan semangat
Terkesan bak melaknat


Tapi dibalik itu semua
Tersimpan sejuta makna
Tersimpan penuh kasih
Tersimpan penuh sayang
Tersimpan penuh harapan


Terkadang merona kasar
Tapi hati selembut embun
Yang merangkul kabut
Dalam balutan lembut


Indahnya sang surya...

Tulus dalam pancaran
Mampu memberi keikhlasan
Mampu memberi kesabaran
Mampu memberi cahaya
Tiada harap meminta
Tiada harap memaksa
Tulus dalam senyuman


Indahnya sang surya...

Menyuburkan tumbuhan
Menghangatkan nuansa pagi
Menghangatkan jiwa dan raga
Mengalahkan kegelapan
Memberi cahaya kehidupan


Indahnya sang surya...

Terkadang merasa gundah
Bila mega mendung menjelang
Terik cahayanya terhalang
Menutupi segala ruang


Ketika terasa gundah
Bersedih hati dalam diri
Sinarnya tak mampu lagi
Menyinari sang bumi


Sang surya sabar menanti
Hingga sang mega menepi
Dan iklim pun cerah kembali








DAMAI ITU INDAH

Kita boleh saja jadi diri sendiri, namun bukan berarti mesti melukai hati orang lain, dari sudut pandang dan pendapat yang lain. Jadilah matahari, yang memberikan seberkas cahaya terhadap bumi penuh tulus, ikhlas tanpa balas jasa dan tiada paksa. Ketika ada perbedaan, apakah perlu diperdebatkan? Sedangkan perselisihan itu tidak baik untuk ketentraman dan kedamaian. Apakah perlu kita berteriak bahwa kitalah yang paling benar dalam suatu pandangan? Sedangkan kita tahu bahwa benar itu datangnya dari Allah Ta’ala, bukannya dari Makhluk-Nya. Dan kita kembalikan pada niat… Terkadang tidak sesederhana itu, ketika kita mersa benar, kita berpikir, “Hal ini bukan masalah niat, akan tetapi masalah aturan.” Yang jadi pertanyaan, aturan yang mana. Aturan Allah-kah? Aturan Rasul-kah? Atau aturan kita sendiri (menyesuaikan kehendak hati yang datangnya dari hawa nafsu untuk memenangkan sebuah pendapat tersebut)? Jikalau memahami suatu kebijakan dan kebajikan, maka tutur bahasa yang baik adalah, “Masing-masing”... Namun ketika ada kesesatan dan kesalahan dalam cara pandang dan menafsirkan sesuatu (tidak sesuai dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits). Maka hendaklah wajib meluruskannya, namun bukan berarti menghalalkan segala cara. Karena islam hadir penuh cinta dan kasih sayang bagi semesta alam…

Minggu, 21 Maret 2010





Cepot: Dewala, kamu paling suka kisah dari tulisan 'SESUATU HAL INDAH' menurutmu cerita yang mana?


Dewala: Aku paling suka kisah yang berjudul 'LANGIT BIRU NAN INDAH' karena awal cerita hingga akhir ceritanya menarik dan penuh kebahagiaan amat dahsyat, hingga hati ini ikut bergetar dahsyat... Hehehe


Cepot: Tapi menurutku, aku lebih suka yang ceritanya sedih sperti 'SEBUAH HARAPAN INDAH'. Di mana kisahnya menceritakan kisah cinta segitiga... Hehehe


Cepot: Tapi bagaimana kalau dalam kisah 'LANGIT BIRU NAN INDAH' itu kita jadikan bahan tanya jawab antara kita?


Dewala: Ok!


Cepot: Seandainya kata-kata sang langit itu 'Ku ingin menjadi bidadari indah mu', tapi bukan untuk sang penyair?


Dewala: Mungkin kalau sang penyair tersebut mempunyai kepribadian yang baik, maka ia akan menerimanya penuh keikhlasan dan ketulusan hatinya merelakan sesuatu yang bukan jadi haknya secara ikhlas sepenuh hati. Tapi seandainya ungkapan itu hanya untuk sang penyair, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan tiada tara dan akhirnya pun, mungkin akan seperti kisah 'LANGIT BIRU NAN INDAH' itu.


Cepot: Setuju lah... Dewala... Tapi apakah mungkin hidup dalam kenyataan seperti itu?


Dewala: Dalam hidup ini tidak ada yang tidak mungkin jikalau Allah berkehendak maka jadilah (qun faya qun).


Cepot: Betul, bro... Hehehe


Dewala: Bahkan menurut sahabat deket ku mengatakan: "Bila hidup terkendali dalam keseimbangan maka apa pun yang terjadi akan seimbang, karena dalam keseimbangan menimbulkan keseiramaan dalam mewujudkan sesuatu hal, sebab di dalamnya saling mengisi kekurangan satu sama lainnya maka tercipta lah sebuah keindahan utuh." Dan kisah ini hampir mirip kisah Nabi Muhammad saw terhadap Siti Khodijah r.a., Nabi Muhammad saw, beliau sebagai Nabi biasa sedangkan Siti Khodijah r.a. mempunyai harta yang berlimpah, bahkan pada saat itu Siti Khodijah melamar Muhammad saw. Subhanalloh...


Cepot: Terus siapa nama sahabat mu itu?


Dewala: Entahlah, aku sendiri tidak tahu siapa dia!? Yang jelas ia pernah berkata demikian padaku... Hihihi


Cepot: Oh, begitu ya... Hihihi...
Terus menurutmu perempuan yang mesti di cari itu seperti apa ya?


Dewala: Rasulullah saw bersabda: "Dunia itu adalah kesenangan dan hiburan dan sebaik-baiknya hiburan adalah perempuan baik (yang sholeh), jika ia melihatnya menyenangkan, jika dia perintah taat, dan jika ditinggal pergi dijagalah hartanya dan kehormatan dirinya."


Cepot: Hmmm... Jadi pengen nikah... Hihihi


Dewala: Nabi saw bersabda: "Janganlah kawin dengan wanita semata-mata karena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu akan menjerumuskan mereka, dan jangan mengawini wanita semata-mata karena hartanya, karena mungkin kekayaan itu akan membuatnya melampaui batas, dan kawinilah mereka itu karena agamanya, maka sungguh budak wanita yang hitam tapi beragama adalah lebih utama." (HR. Abdu bin Humaid)
Nabi saw bersabda: "Wanita itu dikawini karena empat hal: Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya,dan karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung." (HR. Bukhari - Muslim).


Cepot: Oh... gitu ya... Aku jadi tambah mengerti dan memahaminya...


Dewala: Iya, emang mesti begitu... Hidup jauh dari agama ibarat menjalani hidup ini tanpa cahaya petunjuk untuk menuju jalan kebahagiaan yang diridhoi Allah.


Cepot: Ya betul... Semoga aja kita menikah kelak mendapatkan kriteria istri ke 'empat hal' tersebut yang banyak di idam-idamkan semua insan dimuka bumi ini.


Dewala: Amin... Subhanalloh, itu yang disebut dengan 'surga dunia', pot...


Cepot: Tapi bagiku seandainya ke 'empat hal' tersebut hanya satu yang terlihat dalam dirinya yaitu 'wanita yang baik agamanya' maka aku akan menikahinya... Hehehe


Dewala: Betul, betul... Setuju... Aku juga sama... pot. Hehehe




Allah Ta'ala berfirman: "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)" (QS. Ali Imran: 14).

Suatu hari Rasulullah bertemu dgn salah seorang sahabat yang kondisi sangat memprihatinkan sehingga mengundang perhatian Rasul sampai Rasul berta mengapa kamu menjadi seperti ini. Orang tersebut menjawab dgn penuh percaya diri bahwasa dia menjadi seperti itu justru karena doanya. Doa adl : Ya Allah berilah saya kesengsaraan dunia dan jadikan kesengsaraan dunia sebagai indikator bahwa saya akan mendapat kebahagiaan akhirat. Mendengar jawaban itu Rasulullah hanya bersabda : inginkah aku tunjukkan doa yg lbh baik dari itu? Lalu dari peristiwa ini turunlah Surat Al-Baqarah ayat 201 Robbana atina fiddunyaa hasanatan wa fil aakhiroti hasanatan waqinaa adzaabannaari {Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka}

Jadi Rasul lbh suka kita punya sebuah kerangka berfikir bahwa kita berusaha utk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akan mejadikan kebahagiaan dunia sebagai jembatan utk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Itu sebenar yg lbh disukai Rasul. Dan bapak-ibu pada musim haji atau yg sudah pergi haji doa yg sering kita baca doa itu. Jadi doa yang sudah sering kita dengar atau yg sudah familiar dgn pendengaran kita itu doa yg sangat luar biasa.

Doa Robbana atina merupakan doa yg paling mewarnai ketika kita melaksanakan ibadah haji dan juga utk kita yg tak sedang melakukan ibadah haji tampak doa itu harus menjadi bagian urat nadi kehidupan kita. Kita minta diberikan kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhirat.

Menurut Ibnu Abbas salah seorang ulama tafsir di kalangan sahabat pernah menyebutkan bahwa yg dimaksud kebahagiaan dunia itu ada 6 yaitu :

  1. Pasangan hidup yg sholeh Pasangan hidup yg terdapat dalam Al-Quran dalam surat At-Tahrim disebutkan ada 3 macam pasangan hidup kita yaitu : a} Tipe pasangan hidup Nabi Nuh Nabi Nuh orang sholeh beliau diberi umur hampir 1.000 tahun dan hampir dari seluruh umur habis utk dakwah tapi ternyata istri sendiri yang termasuk menentang dakwahnya. Ada tipe seperti ini suami tdk pernah ketinggalan sholat shaum senin-kamis namun istri tidur saja. b} Seperti Firaun Kita kenal Firaun simbol kedzoliman dan ketakaburan. Apalagi ada 3 pencetus kesombongan yaitu : ilmu kekayaan dan kekuasaan. 3 hal ini ada pada Firaun. Namun Firaun yg begitu dzolim dan takabur kata Rasul ada 3 wanita sholehah : - Khadijah : istri Rasulullah - Maryam : ibunda nabi Isa - Asiyah : istri Firaun Tipe ini adl istri taat beribadah namun sang suami jauh dari Allah c} Keluarga Imron Imron adl orang sholeh punya istri sholeh punya anak orang sholeh dan cucu juga sholeh. Sebenar bukan hanya keluarga Imron saja ada keluarga Rasulullah keluarga Ibrahim namun mereka semua Nabi sedang Imron bukan Nabi. Bagi yg belum menikah ada 4 kriteria pasangan hidup : ganteng/cantik pinter kaya dan sholeh. Namun setelah dicari tak dapat 4 kriteria tersebut yg penting adl hidup dan sholeh. Tentu harus klop antara doa dan ikhtiar mencari pasangan sholeh jangan dicari di diskotek cafedll tapi carilah di majelis taklim seperti ini.
  2. Anak yang jadi penyejuk hati Anak bisa jadi surga dunia atau neraka dunia. Walau keluarga pas-pasan tapi anak sholeh maka dianggap oleh lingkungan sebagai keluarga yang sukses/berhasil
  3. Lingkungan yang sholeh Kalau kita punya teman yg sholeh itu adl kebahagiaan dunia. Tidak semua orang pintar/cerdas arif dalam menghadapi persoalan. Tidak selama kecerdasan berbanding lurus dgn kebijaksanaan. Majelis taklim bukan hanya sekedar ilmu tapi mencari teman-teman dan lingkungan yang sholeh. Nabi bersabda: Siapa yg duduk di majelis taklim dan niatnya ikhlas maka malaikat akan memberi barokah kepada majelis itu dan langkah yg dilakukan akan menjadi kifarah dosa-dosanya. Maka yg rumah jauh itu lbh bagus asal ikhlas.
  4. Harta yang halal Kalau yg menjadi paradigma kita atau tolak ukur kita itu harta yang banyak hati-hati kita cenderung menghalalkan segala cara. Karena demi banyak itu. Tapi kalau tolak ukur kita itu harta yg halal insya Allah kita akan bekerja keras mencari yg halal syukur-syukur bisa banyak. Sehingga bagaimanapun harta yg banyak itu akan memberikan kemudahan bagi kita dalam ber-taqarub kepada Allah.
  5. Keinginan untuk memahami Islam dan mau mengamalkan Ada keinginan/semangat utk memahami Islam itu patut disyukuri sebab tanpa keinginan yg kuat dan karunia Allah kita tak mungkin hadir disini. Problem terbesar yg dihadapi umat Islam adl banyak yg mengakui diri muslim tapi tak mau memahami Islam itu problem kita.
  6. Umur yang barokah Nabi bersabda: Kalau kamu meninggal kamu akan mendengar derap kaki orang yg mengantarkan kamu itu pulang dan yg setia menemani adl amal sholeh. Maka ukuran kebahagiaan dunia adl bagaimana kita bisa mengisi hidup dgn kesholehan. Usia makin bertambah kita juga makin sholeh.

Jadi ketika kita mengatakan ‘Ya Allah beri kami kebahagiaan dunia’.enam hal itulah yg kita minta. Pasangan hidup yg sholeh anak yg sholeh lingkungan yg sholeh harta yg halal keinginan utk memahami Islam dan umur yg barokah...



“Semoga dikaruniai suami yang Sholeh yang bisa membimbing saya dunia dan akherat”.
Jawaban seperti ini sering terdengar meluncur ringan dari seorang gadis yang akan berumah tangga ataupun pengantin baru. Kebanyakan Wanita ketika diajukan pertanyaan mengenai jodoh ia mengatakan ingin suami yang Sholeh.
Tapi apakah suami seperti itu yang benar- benar di dambakan oleh seorang wanita dalam kehidupan rumah tangganya ?


Karena Doanya sudah di Makbulkan Allah, serta mendapat doa juga dari rekan rekannya, maka hiduplah si Gadis ini dengan seorang lelaki Sholeh.

Seorang lelaki Sholeh amat takut kepada Allah, salah satu bukti ketakutannya ialah dalam hal mengerjakan Sholat.Jadi lelaki soleh akan menyuruh malah kadang memaksa sang Istri untuk sholat,. Tetapi ada istri yang malas Sholat Nah..! padahal sebelum menikah dia inginkan lelaki yang sholeh yang membimbing dia dunia dan akherat.
Ketika si Istri sedang lelap tidur malam hari, sang Suami Sholeh bangunkan dia untuk sama sama Sholat Tahjud.
” Ada apa abang ini..!, saya masih ngantuk, Abang Sholatlah sendiri”
Lupa sudah si Istri dengan keinginannya dulu, di ajak sholat tahajud malah marah marah.

Lelaki yang sholeh amat takut kepada Murka Allah. Islam mewajibkan Wanita Tutup Aurat,Jadi suami Sholeh tidak akan membenarkan istrinya keluar rumah atau mengenakan pakaian sesuka hati, atau berhias serta bermake-up tebal. Tetapi Sang Istri kurang senang dengan peringatan suami tentang hal ini.
Suami sholeh yang anda idam idamkan yang akan membimbing anda Dunia akherat telah anda bantah perkataannya.

Suami yang Sholeh tidak akan duduk di rumah saja, “Berada di bawah ketiak Istri sepanjang hari”, karena dia tahu,Jihad Fi Sabillah adalah agenda utama dari hidup seorang lelaki sholeh.
Dia akan senantiasa berada diluar rumah berjuang untuk agamanya serta berjuang untuk mencari rezeki yang halal, sehingga terkadang bisa pulang larut malam.
Kadang wanita tidak suka hal seperti ini, padahal doanya dulu ingin mendapat lelaki yang sholeh.
Sebagai lelaki soleh dia akan menjadikan Masjid sebagai rumah kedua dalam hidupnya, nah…, sang istri sering berkata, “Ke Mesjid lagi ke Mesjid lagi, ngapain di sana sih ?”

Lelaki Sholeh amat taat kepada kedua orang tuanya, malah baktinya kepada ibunya melebihi kepada Istrinya, hal ini sering terjadi dan membuat seorang Istri cemburu, dan marah marah.
padahal doanya ingin dapat Suami Yang Sholeh.

Lelaki yang Sholeh juga tidak suka hidup bermewah-mewah, uangnya yang banyak dihabiskan dalam amal dan perjuangan agama, diapun takut menerima suap/sogokan dan segala macam uang haram , jadi dia tidak bisa memberi barang barang mewah seperti rumah yang besar, mobil yang mewah dan perhiasan yang banyak kepada Istri dan keluarganya.
Dalam keadaan seperti ini ada sang Istri yang tak suka.
Jika dia dulu inginkan suami yang Sholeh maka setelah dapat dia tak suka dengan pola hidupnya.

Lelaki yang Sholeh akan menjauhkan diri dari maksiat , maka dia akan melakukan perkara yang halal saja. Salah satu perkara yang halal adalah memiliki empat Istri ( dengan syarat dan ketetapan Syariah bisa dipenuhi ). Nah..lagi lagi perkara ini mebuat banyak para Istri sangat berpantang, malah akan membenci suaminya yang kawin lagi.
Bukankah anda dulu berdoa agar dapat lelaki yang Sholeh ?

Menyimak hal hal diatas, maka banyak sekali masalah masalah yang tidak di sukai seorang istri ketika dia mendapat suami seorang Yang Sholeh, padahal dulu selalu berdoa agar mendapat Suami yang Sholeh.

Timbul pertanyaan sekarang, kalau mendapat suami yang tidak sholeh atau yang biasa biasa saja, apakah akan membawa kebahagiaan ?

Dunia ibarat air laut, ketika kita meminumnya maka kita akan semakin haus. Dunia juga tidak kekal, susah-senang, lapang-sempit, bahagia-sengsara…semuanya tak ada yang abadi.
Dunia seperti bayang bayang saja, dilihat ada tetapi ketika hendak di tangkap hilang dia.

Mencari kebahagian yang kekal abadi bukan Di dunia tempatnya. Dunia adalah ladang untuk tempat menanam, akan di penen bila tiba masanya.
Mati dan masuk kubur adalah saat memanen segala amalan ketika di Dunia. Kubur bisa menjadi pintu Surga ataupun menjadi lubang dari lubang lubang neraka, siapa masuk tak bisa kembali lagi.

Hanya ada dua pilihan ke dalam Surga atau ke dalam Neraka.

Berbekal niat yang lurus, hati yang ikhlas serta langkah yang Istiqomah, mari kita lewati masa-masa di dunia ini dengan penuh ketakwaan, karena Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan semua tentang dunia dan akherat kepada Manusia.

Berbahagialah mereka yang menjalani hidup ini sesuai dengan perintah dan larangan-Nya.
Semoga kita tidak terperdaya dengan sesuatu yang semu.

Dan bagi para calon istri, jangan ragu untuk selalu berdoa, ” Ya, Allah berilah saya seorang suami yang Sholeh yang dapat membimbing saya dalam perkara dunia apalagi dalam perkara Akherat, ya, Allah kabulkanlah Doa hambamu ini “.
Amiiin.


Jumat, 19 Maret 2010




Ada sebuah nama melantunkan syair-syair indah
Syair-syairnya bernadakan semangat juang indah
Seakan dirinya mempunyai kepribadian indah
Serta mempunyai rasa keikhlasan tulus suci indah


Alam bertanya; "Pada siapa gerangan berkehendak?"


Alunan kata indahnya terdengar ke angkasa
Melambung tinggi menembus awan biru
Membangunkan langit biru nan indah
Memberi rasa suatu indah dan bahagia


Alam bertanya lagi; "Apakah mungkin untuk sang langit?"


Langit biru hanya terdiam tersipu malu
Kata-katanya yang mengalun merdu
Negerinya bergerak menggetarkan awan biru
Langit nan indah itu berkrakter pemalu
Ia mampu mendengarkan tanpa beranjak ke bumi
Namun sang penyair tak henti berkreasi
Semampu mungkin ia lakukan tiada henti


Alam bertanya; "Apakah mungkin sang penyair itu mampu?"


Penyair itu terlihat tabah dan sabar menghadapi
Meski terkadang jatuh bangun ia lewati
Keinginannya seakan tiada batas teguh berpendirian
Ia tak mudah putus asa menggapai tujuan
'Maju terus pantang mundur' bisik dalam hatinya


Suatu ketika sang penyair kebingungan, ia kehilangan akal, pikiran dan tenaga. Sang penyair indah itu kehilangan kemampuannya, ia tak sanggup lagi meraih mimpi indahnya. Karena sang penyair menyadari bahwa hal itu di luar batas kemampuannya. Ia hentikan segala upayanya demi mengendalikan diri dari ambisi yang berlebihan dan dari perbuatan yang tidak dikehendaki kelak. Sang penyair kini terdiam tanpa melakukan sesuatu hal untuk sang langit biru nan indah.


Alam bertanya; "Bagaimana keadaan nasib sang langit?"


Langit merasa sunyi menyelimuti keheningannnya
Lantunan suara merdu kini tiada lagi menggema
Langit mulai merasakan luas ruangnya tak nyaman
Ketika malam tiba tiada bintang menemaninya
Sang rembulan pun enggan bercahaya
Kegelapan meliputi dirinya dalam renungan
Hari-harinya ia lalui penuh kegelapan
Di setiap ruang sudutnya tak ada lagi senyuman


Alam bertanya; "Apa yang terjadi selanjutnya?"


Tak sengaja sang langit melihat selembar kertas tergeletak yang ditinggalkan oleh sang penyair yang bertuliskan:

Aku hanya sang kumbang yang mampu menyelusuri secara perlahan dimulai dari dahan, tangkai, dedaunan dan ranting-ranting kering berjatuhan saat pijakan kaki ku. Dan setelah ku berhasil menyusuri, hingga ku sampai di puncak penghujung bunga. Ku hanya mampu ungkapkan padanya bahwa aku tak sanggup membahagiakannya.

Lalu sang langit menjawab dalam hatinya:

Ku tak menginginkan harta yang berlimpah darimu
Atau pun bergelimang intan permata berkilau indah
Dan aku tak menginginkan sebuah ujian berat padamu
Yang sesungguhnya hal itu di luar kemampuanmu
Yang ku inginkan buat aku bahagia penuh senyuman
Karena ku ingin menjadi bidadari indahmu


Alam bertanya; "Apa yang akan dilakukan sang langit kelak?"


Setelah membaca tulisan sang penyair, sang langit mulai menunjukan kemampuannya, Langit itu mencoba mengumpulkan semua awan itu menjadi bentuk hamparan terbentang luas. Ketika langit merasakan sedihnya tak tertahankan lagi. Laskar awan-awan itu bergemuruh disertai petir menggelegar dan merubah diri menjadi warna pekat hitam. Hingga awan itu mengalirkan tetesan air berjatuhan menyirami dan membasahi apa pun yang terkena tetesnya, sehingga bumi tersenyum dan berseri. Ketika sang penyair tahu bahwa hal itu adalah kesedihan sang langit, maka ia pun segera bangun dan bangkit dalam diamnya. Penyair itu seakan tiada rela seandainya ada suatu kesedihan terhadap sang langit, karena sang penyair itu tak menginginkan ada kesedihan, apalagi hingga meneteskan air mata. Sang penyair itu kembali seperti sedia kala menemani suka dukanya sang langit dalam indahnya kebersamaan yang sejati. Hujan deras pun reda seketika dan muncul lah sang pelangi dengan warna-warni nan indah menghiasi cakrawala hidup keindahan. Dan kini sang langit nan indah pun tersenyum kembali untuk selamanya...



Rabu, 17 Maret 2010


Tiap bayangan itu bersua dengannya
Ingin dirinya ungkapkan sesuatu padanya
Namun hati kalah dengan logikanya
Kelemahan dirinya diam seribu bahasa
Kenyataannya dikalahkan semua angannya
Ketakutannya tanda bukti kekhawatirannya
Yang mengelilingi setiap raga dan jiwanya


Serba salah dalam suatu tindakannya
Menghantui dan menggerogoti dalam sukmanya
Lambat laun tersiksa perlahan dalam bathinnya
Mengharapkan sesuatu penuh kelemahannya
Menghindar darinya jalan terbaik baginya
Meski tersimpan dalam harapan indahnya


Terpendam rasa menghiasi hari-harinya
Antara indah dan tidak pun dijalaninya
Ketidakberdayaannya lumpuhkan percaya dirinya
Seolah dirinya ragu dengan harapan indahnya
Dirinya beranggapan hal itu impian bukan buatnya
Impian itu hadir di hidupnya bukan untuk dirinya


Dalam kelemahannya mencoba bertahan
Hadapi segalanya penuh dengan senyuman
Sabar dan sholat pun dijadikan penolongnya
Lindungi diri dari segala salah dan dosanya
Sabar dan tabah dari apapun yang dihadapinya
Demi mempertahankan keikhlasan tulus hatinya
Yang terbungkus dalam balutan kesucian jiwanya


Ia bagaikan puspa seribu bahasa isyarat
Menyebarkan aroma wangi merangkul pikat
Wujud indahnya membuat dirinya terjerat
Mengalirkan sari-sari madu menempel lekat
Bertaburan serbuk sari terbang mendekat
Dirinya terlena dalam indahnya dekapan erat
Terlepas dari genggaman tangannya hal terberat
Namanya terlanjur terukir indah melekat erat


Kamis, 11 Maret 2010

Terkadang tanpa kita sadari banyak dalam kehidupan ini tidak mempunyai saringan dalam hidup, segalanya kita ikuti dan dilakukan oleh kita yang terkadang hal itu bertentangan dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Baik itu dalam pergaulan sehari-hari atau pun dalam media-media lainnya seperti halnya: Film, Sinetron, Novel, Majalah dll. Padahal dalam hal ini sebenarnya setiap suatu unsur karya yang identik dengan sebuah karangan pasti mengandung imajinasi yang terkadang bertentangan dalam Al-Qur'an dn Al-Hadits, namun kita tidak menyadarinya bahkan meniru dan mengikutinya. Disini lah kita perlu filter untuk menyaring sesuatu hal yang kurang baik, bahkan buruk sekalipun menurut dinul Islam. Tapi terkadang pula setiap sesuatu karya itu sepenuhnya baik dan terkadang pula tidak baik, maka pandai-pandai lah membedakan mana yang baik dan buruk menurut agama. Disitu lah kita akan melihat kemampuan diri kita untuk lebih berpikir dan berakal, sebagaimananya manusia itu diciptakan Allah dengan sempurna dibandingkan mahluk lainnya. Dalam pengertiannya setiap kehidupan kita bebas melakukkan apapun namun kita tetap perlu pelindung dan aturan sebagai pembatas dari perbuatan yang tidak di ridhoi Allah Ta'ala. Dan islam itu pada dasarnya tidak memberatkan hamba-Nya malah meringankan bagi setiap hamba-Nya Dan hal itu sesuatu yang mesti di syukuri karena Allah memberi sesuai kadar kemammpuan setiap insan. Namun terkadang mereka tak menyadarinya betapa sayangnya Allah kepada hamba-Nya melebihi rasa sayang seorang ibu terhadap anaknya.