Popular Posts
-
Ada hal diluar dugaan Sebelumnya kubayangkan Akan terhalang sesuatu Antara ruang dan waktu Apakah ini suatu pertanda? Bahwa ruang dan waktu ...
-
26-06-2010 13:30 Satu alam di ruang berbeda Hadir sosok bayangnya Melayang di angan-angan Menari-nari di dalam ruang Terdiam sulit ekspresik...
-
Tanpa kau sadari Kau ajariku cinta Kau ajariku mencinta Meski jiwa raga tak menyatu Meski tiada suatu ikatan Namun bayangmu selalu ada Sungg...
-
Rumus hidup sudah benar adanya Hal terindah bagaimana sikap dan cara menyikapinya Dengan suka, lebih bersyukur dalam menyikapinya Dengan duk...
-
Seorang pemuda jujur bekerja sebagai karyawan biasa, lalu pemuda itu melakukan kesalahan ia mengambil uang rekan kerjanya. Saat itu re...
-
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu" Allah Ta'ala menyuruh hamba-Nya, terhadap apa yang mereka dambakan dari kebai...
-
Segenggam harapan Kepalan dalam tangan Bertahan dalam nyanyian Nyaris tak terdengar Menutup segala ruang Memendung segala celah Membungkam a...
-
Dikau tak sempurna Begitu pun daku tak sempurna Hidup dan cinta tak butuh kesempurnaan Namun sikapi semuanya dengan sempurna Meminimalisir y...
-
Melukis bintang di tengah terang benderang Kuwarnai dengan cat lembayung senja Di atas kanvas berkain kehidupan Menggoreskan kuas ...
-
Terkadang selalu berpikir dalam benak Kenapa ku suka padanya? Mungkin ku salah menyukai Mungkin ku salah menempatkan Mungkin dia terlalu ind...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Mengenai Saya
Pengikut
Selasa, 25 Januari 2011

Entah dari mana datangnya
Setiap saat hadir tiada diundang
Tak pernah menduga sebelumnya
Ia menjelang lembut apa adanya
Tak dapat ditahan, tak dapat dibendung
Mengalir secara natural tiada paksa
Percikan sejuta rasa dalam senyuman
Ada sebuah harapan untuk seseorang
Mungkin hal itu bukan suatu keinginan
Akan tetapi hal itu suatu kebutuhan
Jikalau harapan tak jadi kenyataan
Allah kan menggantinya yang lebih baik
Yang Mungkin jauh lebih bahagia dari harapan itu
Namun apapun alasannya, kau tetap paling indah bagiku
Tahukah kau...
Jika kau menjadi milik orang
Betapa beruntungnya orang itu
Hingga ia mampu dapatkan indahmu
Jikalau hal itu terjadi terhadapmu
Mungkin senyum bisuku iringi langkahmu
Yang mampu terpendam manis di hatiku
Doa tulus pun selalu akan menyertaimu, di mana pun kau berada
Meskipun rasa itu sempat ada di naluriku
Menyisakan sisa-sisa rasa itu dalam hidupku
Yang mungkin rasa itu kan hilang di memoriku
Terkadang terpikir...
Tersimpan rasa ikhlas yang mendalam
Ikhlas untuk mendapatkan dan merelakan
Kita takkan pernah tahu apa yang kan terjadi
Kita hanya mampu berusaha dan merencanakan
Dan karena Kehendak-Nya kan terjadi
Dan karena Kehendak-Nya pula takkan terjadi
Seperti itulah rumus dunia dalam hidup ini
Harapan sederhanamu
Buatku bertahan
Mengitari sekeliling jagat raya
Menanam bibit-bibit kepercayaan
Hingga tumbuh subur dalam sanubari
Menghias segala aspek kehidupan
Kupernah bermimpi...
Kita hidup di gubuk sederhana
Almarhummah ibuku hadir di mimpi itu
Ibuku tersenyum melihat kita berdua
Melihat ibuku tersenyum kubahagia
Dalam mimpi saja kucukup merasa bahagia
Apalagi mimpi itu menjadi kenyataan
Terima kasih, Ya Allah
Engkau membuat ibuku tersenyum
Meski hal itu cuma dalam mimpi
Tapi kadar bahagianya tetap serasa sama
Jikalau kuboleh menyarankan
Tafakurilah syair yang kubuat untukmu
Mengenai orang luar biasa, tetap yang terindah
Dibandingkan orang biasa seperti diriku...
LUAR BIASA
Orang biasa, hanya mampu yang biasa
Orang luar biasa, pasti mampu luar biasa
Di sana kan menemukan luar biasa
Ia kan mampu bahagiakan dunia akhirat
Orang biasa, takkan memiliki apa-apa
Ia mampu berharap secara sederhana
Bahkan terkadang, sederhana pun ia tak dapat
Namun mampu hadapi sesuatu yang ada
Yang belum tentu masuk ke dalam surga
Tapi dengan orang luar biasa
Maka ia kan mampu masuk surga
Orang luar biasa, mampu dalam segalanya
Baik surga dunia maupun surga akhirat
^___^
Sabtu, 22 Januari 2011

"...hati menginginkan bidadari ketiga, namun logika dan hati mempertahankan bidadari kedua... Dan namun pula, bidadari pertama masih ada sisa kisah dalam hati... Subhanalloh, hanyalah Allah yang mampu merubah segala sesuatunya..."
Tiga bidadari bumi memasuki ruang hati
Ketiganya seolah tercipta untuk dimiliki
Bidadari pertama penuh rahasia di balik sembunyi
Bidadari kedua penuh smbutan hangat di balik jeruji
Bidadari ketiga penuh rahasia, sambutan dan kelembutan sejati
Bidadari pertama...
Tak banyak bertindak
Sekali bertindak sulit ditebak
Seolah tak ingin tertebak
Bidadari kedua...
Banyak bertindak
Sekali bertindak selalu salah
Seolah tak ingin menunjukan kelebihan
Bidadari ketiga...
Banyak bertindak
Sekali bertindak selalu tepat
Seolah tak ingin buat kesalahan
Percaya ataupun tidak, yakin ataupun tidak
Setiap insan memiliki hak tersendiri meyakininya
Namun satu hal keyakinan hanya untuk seorang
Apapun wujudnya, apapun bentuknya dan apapun karakternya
Hal itu sesuatu yang terbaik Menurut-Mu, Ya Robb
Jikalau hal itu telah digariskan Kehendak-Nya Yang Maha Kuasa
Bertindak sesuai Ridho-Nya
Apapun tindakannya berharaplah Ridho-Nya
Jangan mengharap pujian dari Umat-Nya
Akan tetapi berharaplah pujian pada Allah Semata
Ya Allah, Ya Robb
Ingin curhat Pada-Mu, Ya Robb
Bila meminta, berharap ketiga bidadari itu
Sayangnya, tak mampu untuk menyatukannya
Sayangnya, satu pun belum tentu menyanggupinya
Berlaku adil itu sesuatu hal yang sulit untukku
Belum tentu mampu berlaku adil seperti baginda Rasul
Tiada lagi tempat memohon selain Diri-Mu, Ya Robb
Berilah kekuatan pada hamba ini yang penuh keterbatasan
Berilah petunjuk dan hidayah agar tak tersesat Dijalan-Mu
Dan berilah sebuah pilihan bidadari bumi untukku
Yang mampu buatku serasa damai dan nyaman Diridho-Mu
Kuingin terbaik menurutku dan terbaik Menurut-Mu
^___^
Sabtu, 15 Januari 2011

Pelita rasa selalu menyala di dasar hati
Mengalir lembut apa adanya dalam hati
Seperti itulah getar rasa bersemayam dalam hati
Meski terkadang, lain di bibir dan lain pula di hati
Karena hati tak dapat dibohongi
Rasa tersebut kan terungkap dengan sendirinya
Dan siapa yang memiliki ketulusan dan keikhlasan
Itulah rasa yang sesungguhnya dan sebenar-benarnya
Sekalipun hal itu bertahan dalam persembunyian
Dan tak pernah terungkap keberadaannya
Coba bayangkan sebuah taman
Di taman itu terdapat beragam mawar
Dari kuning, putih hingga merah
Mereka semua penuh duri keimanan
Mereka tumbuh subur terlindung duri itu
Jumlah mereka beribu tumbuh di taman
Namun hanya satu mawar jadi idaman
Bunga itu sesekali dilirik...
Dahannya bergoyang
Rantingnya berjatuhan
Daunnya berguguran
Selepas itu bunga disiram...
Bunga menebarkan keharuman
Sungguh rupawan ketika tersenyum
Hati terasa damai dalam kenyamanan
Setegarnya wanita selalu ada sisi manjanya
Feminimnya tanda keindahan dalam dirinya
Dan tutur bahasa lembut adalah senjata pamungkasnya
Wanita tercipta sebagai sosok makhluk terindah
Seutas doa bersandar dalam hati
Berharap setangkai bunga menemani
Temani indahnya taman hati
Rahasia di balik Rahasia-Nya
Tindakan adalah segala sebuah jawaban
Hadapi semuanya penuh tulus dan keikhlasan
Untuk mengharap dan menggapai Ridho-Nya Illahi
^___^
Sabtu, 04 September 2010

Karangan cerita karya: Tira Risyadi
Cerita ini hanya karangan belaka bila ada kesamaan dalam alur cerita kisah ini, itu hanya kebetulan saja...
Setelah menikah, Ridwan dan Farida hidup bahagia. Keluarga baru ini hari-harinya di hiasi penuh dengan kindahan, sebagaimana mestinya umat muslim yang idam-idamkan, ialah keluarga sakinah, mawadah dan warohmah... 2 tahun kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Ridho. Ridho sempat pesantren di salah satu pesantren yang berada di Tasikmalaya... 15 tahun kemudian... Selama mondok di pesantren, Ridho tak pernah menerapkan akhlak dan moralnya dengan baik, bahkan sholat lima waktu pun, tak sepenuhnya ia tunaikan. Terkecuali kalau ia selagi ada di rumah, ia terlihat alim, apapun yang diperintahkan kedua orangtuanya, Ridho tak pernah membangkang, begitupun dengan ibadah sholatnya tak pernah ia tinggalkan selama orangtuanya berada di rumah. Karena ia takut kepada kedua orangtuanya, bukannya takut karena Allah. Ridho bertingkah laku demikian pengaruh lingkungan di sekolahnya, yang saat ini mengenyam bangku SMU. Kota Jakarta adalah pusat perantau dari daerah lain, sehingga segala etnis berbaur satu di kota tersebut. Di mana Jakarta penuh beragam keistimewaan dan pula beragam keburukkannya. Ridho adalah masa remaja labil yang pada dasarnya tengah mencari jati diri yang sesungguhnya, sepertinya ia belum menemukan jati diri yang ideal dalam hidup. Selama di sekolah, Ridho hanya mengenal dunia luarnya penuh dengan kekerasan, brutal dan sifat premanisme. Pada dasarnya warga setempat berpikir, bahwa sekolah tak bisa dijadikan sebagai faktor kesalahan paling utama. Karena yang terpenting adalah pada diri seorang anak itu sendiri, antara terbawa arus ataupun tidak, sebab hidup adalah adaptasi, di mana pun berada jikalau ia memiliki prinsif teguh terhadap ajaran agama, maka takkan terbawa arus dalam lingkungan tidak baik dan takkan mempengaruhi karakter yang ada pada dirinya. Berkali-kali, Ridho sering melihat tawuran antar pelajar dengan seragam sekolah yang lain. Tanpa ia sadari, Ridho pun ikut serta dalam dunia keras tersebut. Tak sedikit, banyak korban hingga meninggal dan luka-luka akibat tawuran tersebut. Namun karena jiwa anak muda yang berapi-api, mereka tak perdulikan apa yang akan terjadi dari akibat itu. Padahal para orangtua mereka banyak mengkhawatirkan dengan adanya tawuran antar pelajar itu, yang berakibat fatal. Suatu ketika sepulang kerja, Ridwan melihat anaknya tengah tawuran. Di tempat kejadian itu, Ridho berlaku liar, seakan ia dalam pertempuran hebat yang mesti dihadapinya. Gesper itu, ia ayunkan berputar berlawanan arah jarum jam, yang telah ia ikatkan dengan bekas gir sepeda motor, sedangkan kawan-kawannya menggunakan alat-alat tajam lainnya, dari samurai, golok, cerulit hingga lemparan-lemparan batu ke arah yang mereka anggap sebagai musuh-musuhnya. Sedangkan para polisi kalangkabut berlarian mengejar-ngejar para pelajar brutal itu. Seketika itu, Ridwan mengerem mobil sedannya tepat dihadapan Ridho. Ridho hanya terdiam malu menatap sorot mata tajam ayahnya itu terhadap dirinya. Setelah itu, Ridho masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, mereka berdua hanya terdiam tanpa ucapkan kata-kata, Ridwan hanya mampu berbisik pada hatinya, "Astaghfirulloh... Mengapa anakku berbuat sesuatu hal yang tidak disukai Allah...?! Ya Tuhan, ampuni hamba dan anakku atas perilakunya yang telah melukai-Mu Ya Robb... Dengan aksinya yang tak terpuji itu." Ridho pun bertanya dalam hatinya, "Kenapa ayah gak menegur dan memarahiku?! Apa aku telah melakukan hal memalukan, hingga ayahku tak berani menegur dan menyapaku?! Entahlah, mungkin ayah lebih tahu bagaimana cara mendidikku!" Lalu sesampai di rumah, Ridwan tak membahas tentang kejadian tadi, bahkan pada Farida pun ia tak memberitahukan hal itu. Namun Farida merasa heran penuh tanda tanya dalam hatinya, "Kenapa mereka berdua pulang bersama?!" Tetapi Farida tak sempat menanyakan hal itu pada Ridwan atau pun anaknya... Di sepertiga malam, Ridwan terbangun dan membangunkan istrinya untuk sholat tahajud. Setelah selesai sholat tahajud, lalu Ridwan berdoa, "Ya Tuhan-ku, ampuni hamba yang gagal mendidik anakku dan jangan Engkau jadikan anakku nasrani, yahudi, atau pun majusi. Jadikan ia anak yang sholeh dan berikanlah dia petunjuk dan hidayah-Mu, hingga di setiap langkahnya senantiasa dalam ridho-Mu... Amin..." Dalam setiap tetes air matanya terselipkan butiran-butiran ketakutan dan kecemasan yang mendalam terhadap anaknya. Setelah berdoa, lalu mereka pun malanjutkan tidurnya, dalam tidurnya selalu terniang di benaknya, "Mengapa anakku berlaku alim di dalam rumah ini, tetapi di luar begitu terlihat liar dan ganas bak seorang penjahat atau pun bandit yang haus akan pertempuran, permusuhan dan pembunuhan." Mengapa Ridwan tak berani membahas kejadian itu, karena ia merasa takut, kalaupun ia mendikte anaknya, ia takut anaknya akan semakin berbuat lebih dari itu. Namun jikalau ia melihat anaknya demikian, maka ia berencana untuk menegur dan menasihatinya tentunya dengan strategi dan lebih bijak lagi untuk mencari jalan yang paling baik. Meskipun ayahnya sudah tahu Ridho berperilaku demikian, tapi untungnya Ridho selamat dari pantauan ayahnya. Karena Ridho selalu berlaku baik apabila sedang di rumah, akan tetapi di luar rumah, sifat buruknya ia kembangkan dengan baik, tanpa sedikitpun kedua orangtuanya tahu. Bahkan ia mulai mendekati dan mengkonsumsi barang-barang haram seperti narkoba... Singkat cerita... Kini Ridho telah menyelesaikan wisudanya dengan gelar sarjana ekonomi. Dengan mendengar kabar ini, orangtua Nadia ingin sekali Ridho tinggal beberapa saat di tempat tinggalnya. Dan Ridho pun menyetujuinya tinggal di tempat almarhummah istri dulu ayahnya. Ibu Nadia menganggap Ridho sebagai cucunya sendiri, sehingga ia berani meminta izin hal itu kepada Ridwan. Padahal perilaku Ridho belum ada perubahan, ia belum meninggalkan sifat dulunya yang tidak baik... Ridwan, Farida beserta kedua orangtua mereka, turut mengantarkan Ridho ke Bandung. Setibanya di Bandung, tepatnya di Bandung Utara, yang asri, sejuk, subur dan pula di tempat tersebut bertaburan pegunungan dan perbukitan nan indah. Mereka di sambut baik oleh orangtua Nadia. Meski dalam kondisi demikian silaturohim antara mereka tak ada putusnya, meskipun sudah tak ada ikatan apapun diantara mereka, tapi temali persaudaraan terasa kental sekali. Selama tinggal di rumah orangtua Nadia. Ridho mengalami perubahan secara perlahan setelah mengenal seorang gadis bernama Fitri yang berparas manis. Ridho mengenal Fitri, karena sering kali melihat Fitri sholat berjamaah di masjid. Ridho pun sempat menanyakan tentang Fitri kepada ibu Nadia, dan ibu Nadia berkata, "Kamu naksir Fitri ya...?!" Sembari ibu Nadia tersenyum lucu atas pertanyaan Ridho itu. Ridho menjawab, "Gak, aku hanya sekedar ingin tahu aja kok, nek..." Ibu Nadia tersenyum kembali seraya berkata, "Fitri anaknya DKM masjid Al-Ikhlas, dan ia pun masih kuliah." Lambat laun Ridwan pun acap kali menunaikan ibadah sholatnya di masjid tersebut, yang kebetulan berdekatan dengan rumah kedua orangtua Nadia. Suatu ketika, Fitri hendak berangkat ke kampus namun Fitri tak sengaja menjatuhkan selembar kertas dan kebetulan Ridho melihatnya di balik jendela. Lantas Ridho mendekati kertas itu yang terjatuh oleh Fitri dan memungutnya. Lembaran itu ada tulisannya, tadinya Ridho tak berani untuk membacaya, namun Ridho merasa penasaran dengan tulisan tersebut, hingga ia membacanya di tempat tidurnya. Tulisan tersebut bertajuk;
SEBUAH HARAPAN INDAH
Ku hanya gadis biasa...
Ku cinta kau karena agama
Ketika agama hilang darimu
Maka lenyaplah cintaku padamu
Ku hanya gadis biasa...
Bisa menangis bisa tertawa
Bisa bersedih bisa bahagia
Hanya sebuah harapan indah
Ku kan bertahan dalam keindahan
Ku kan menjaga keutuhan
Ku kan menjaga kesucian
Ku hanya gadis biasa...
Menanti sebuah harapan indah
Menanti sang pangeran berkuda
Yang sanggup melindungiku
Yang sanggup mempertahankanku
Menjagaku dalam hangat kasih sayangmu
Ku kan sabar menantimu
Ku kan sabar menunggumu
Sebuah harapan indahku...
Fitri Widiyaningsih
Setelah membacanya, Ridho beranggapan kalau Fitri sudah mempunyai idaman hati. Padahal Ridho tahu, ia mulai berubah dan bertaubat karenanya, namun meski demikian Ridho merasa, tak baik kalau cinta itu mesti dipaksakan... Ketika Ridho akan ke masjid untuk sholat dzuhur, tak disengaja melihat seorang nenek-nenek tua renta tengah berjalan menyusuri jalan setapak, yang terlihat tanahnya dalam kemiringan 70 derajat dari permukaan tanah dasar. Nenek-nenek itu berjalan perlahan, selangkah demi selangkah merayap sembari kedua tangannya memegang akar-akar pohon yang melintang di permukaan tanah dalam kemiringan tersebut. Nenek-nenek itu terlihat bersemangat menuruni jalan setapak, saking menginginkannya sholat berjamaah di masjid, walau ia tak peduli bahaya jiwanya di depan mata terbentang. Namun karena keikhlasan hatinya untuk beribadah, ia tak peduli akan membahayakan dirinya, bahkan mukena yang menempel di raganya itu, seakan menggugah gairahnya untuk sholat berjamaah. Sebenarnya nenek-nenek ini, selalu diantar oleh anaknya namun pada saat itu anaknya sedang pergi, serta di rumahnya tidak ada siapapun sehingga nenek itu berinisiatif pergi seorang diri... Lalu Ridho menghampiri nenek tersebut dengan maksud menolongnya, setelah sampai di tujuan, tangan Ridho mengulurkan tangannya kepada seorang nenek itu. Nenek itu tersenyum dan menyambut tangan Ridho itu, dengan mata berbinar-binar penuh rasa bahagia ada yang membantunya. Melihat secuil kebahagiaan yang nampak di wajah nenek-nenek tersebut, Ridho berkata dalam hatinya, "Subhanalloh... Nenek tua ini, begitu bersemangat menjalankan perintah Allah, padahal aku sendiri yang masih muda dan bertenaga, terkadang berleha-leha menegakan sholat... Mungknkah ini sebuah teguran dari Allah, bahwa aku harus benar-benar taubat nasuha... Ya Allah, ampuni hamba dari segala dosa dan terimalah taubatku... Alhamdulillah, wasyukurillah... Engkau telah memberiku hidayah yang begitu luar biasa." Ridho seraya eneteskan air matanya melihat sosok seorang nenek yang begitu kuat tekadna untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid. Sesampai di masjid, lantas nenek itu ucapkan terima kasih kepada Ridho, ia pun tersenyum dan merasaan kebahagiaan bathin yang tiada tara yang diberikan Allah padanya. Dan Ridho pun memehami pengalaman yang barusan tadi, sehingga segala amal baik ibadahnya bukan karena manusia, akan tetapi ikhlas karena Allah SWT. Begitupun makna dari tulisan Fitri yang yang menginginkan cintanya itu ikhlas Lillahi Ta'ala... Beberapa minggu pun berlalu, Ridho pulang kembali ke Jakarta. Di Jakarta ia mulai mengalami perubahan pesat dalam dirinya. Ia sudah meninggalkan kebiasaan buruknya, bahkan ia mengakui taubatnya kepada kepada kedua orangtuanya. Da ia berjanji takkan mengulangi perilaku buruknya di masa lalu. Ridwan dan Farida bersujud syukur atas pengakuan Ridho, karena bagi mereka berdua hal ini adalah anugerah terindah yang telah Allah berikan pada mereka... Di tempat yang berbeda, Fitri mencari-cari selembar kertas yang pernah ia jatuhkan tanpa disengaja dan tanpa ia sadari kertas itu telah hilang, namun hasilnya nihil. Ia tak menemukan selembar kertas itu... Sepulang dari masjid, setelah Fitri sholat berjamaah dan kebetulan satu shaf dan bersebelahan denga ibu Nadia. Lantas ibu Nadia menyusul Fitri agar ia menunggu sebentar di rumahnya, Fitri pun penuh tanda tanya dalam hatinya, "Kenapa, tumben ibu Nadia menyuruhku untuk menunggu!" Setelah 3 menit menunggu, ibu Nadia menghampiri Fitri semabari memberikan sebuah amplop putih polos bertuliskan "Teruntuk Fitri Widiyaningsih". Lalu Fitri bertanya, "Dari siapa?!" Namun ibu Nadia tidak menjawabnya, ia hanya menyuruh Fitri agar pulang ke rumah dan membacanya. Dengan tersenyum , Fitri pamit kepada ibu Nadia dengan penuh rasa malu dan penuh rasa penasaran, apa isi dalam amplop tersebut. Fitri pun lekas memasuki kamarnya, ternyata amplop itu berisikan kertas yang selama ini ia cari-cari. Namun tulisannya sudah ditambahi oleh Ridho dengan tulisan "Maukah aku jadi pangeran berkudamu?" dan di bawahnya lagi dituliskan lagi namanya "Muhammad Ridho bin Ridwan". Setelah membacanya Fitri tersenyum bahagia karena hal itu yang ia harapkan terhadap seorang Ridho... Setahun kemudian, Ridho sudah mempunyai pekerjaan. Dengan penuh kepercayaan, ia memberanikan diri meminta restu kepada kedua orangtuanya bahwa ia ingin melamar Fitri. Setelah tahu maksud niat Ridho. Ridwan bertanya kepada Ridho, "Siapa dia? Dan anak siapa?" Ridho menjawab, "Ia bernama Fitri dan anak dari seorang DKM yang bernama Sobar bin Syukron." Ridwan pun berkata, "Oh, ya... Sobar teman ayah, saat ayah bekerja di Bandung... Baiklah ayah merestui lamaranmu..." Mereka bertiga tersenyum bahagia dengan apa yang diutarakan oleh Ridho. Lantas, Ridwan sekeluarga mendatangi keluarga Sobar untuk melamar Fitri bakal mantunya... Dan setibanya di sana, dari pihak keluarga Sobar pun menyetujui lamaran itu, begitupun dengan Fitri, ia pun menerima lamaran tersebut...
TAMAT

Rasa cinta itu unik
Bergerak sesuka hati
Mengalir lembut tulus
Tiada kira tak terduga
Mampu terobos segala ruang
Di mana mereka pun berada
Takkan jadi kendala
Hubungan bathin pun terjadi
Dari hati ke hati
Seakan tiada batas
Menyusur sela-sela cinta
Menyusur rongga-rongga cinta
Getarkan tiang-tiang asmara
Betapa bodohnya...
Bila cinta tiada disyukuri
Bila cinta tiada kekuatan
Bila cinta tiada perasaan
Betapa pandainya...
Cinta itu menyusur indah
Cinta itu membelai lembut
Cinta itu mengusik hati
Hingga tak mampu menolak fitrah-Mu
Saling mengasihi dan saling menyayangi
Kau taburkan sejuta senyum
Kau sebarkan sejuta santun
Kau tebarkan sejuta lantun
Menggugah gairah hidup
Menggugah gairah ibadah
Penuh niat setulus hati
Penuh niat kebersihan hati
Dengan ikhlas karena Allah
Sujud syukur atas anugerah-Mu
Segala nikmat-Nya tiada terhitung
Segala indah-Nya tiada terbilang
Sungguh tak pantas berburuk sangka
Karena Engkau Maha Segalanya
Sungguh tak pantas agungkan duniawi
Karena Engkau Maha Agung dari Segalanya
Berlaku tiada berlebihan
Dalam bingkai keseimbangan
Itulah makna dari kehidupan
Tak usah mengada-ada
Tak usah menabah-nambahkan
Tak usah memberat-beratkan
Allah berikan semuanya sesuai takaran
Betapa hinanya bila mengatur yang telah ditetapkan
Betapa hinanya bila mengatur yang telah ditentukan
Aturan-aturan Allah dapat dipertanggungjawabkan
Subhanallah, betapa rendahnya diri ini
Bila berlaku takabur, riya dan sombong
Bila berlaku membanggakan diri dengan apa yang dimiliki
Karena yang pantas sombong hanyalah Allah Ta'ala
Dia-lah Maha Kaya, Dia-lah Maha Kuasa
Firman-firman-Nya menyusur indah di setiap kehidupan
Sabda-sabdanya menyusur indah di setiap kehidupan
Bila membaca Surat Cinta-Mu Al-Qur'an
Rinduku pada-Mu semakin menggebu
Rinduku pada Rasul-Mu semakin membara
Duhai Allah, jadikan semua insan taat pada-Mu
Duhai Allah, jadikan semua insan beriman pada-Mu
Dan jangan Kau jadikan kami orang-orang yang kufur kepada-Mu
Amin, Amin, Amin Ya Robbal'alamin
Senin, 02 Agustus 2010

Karangan cerita karya: Tira Risyadi
Cerita ini hanya karangan belaka bila ada kesamaan dalam alur cerita kisah ini, itu hanya kebetulan saja...
Kini Ridwan jalani hidup seorang diri, rumah yang ia tempati hanya dia seorang. Tiada siapapun di rumah itu kecuali Ridwan dan potret almarhummah istrinya, yang masih terpajang rapi di dinding. Sesekali ia sering memandang potret istrinya itu, dengan pandangan penuh rasa rindu yang menyelimuti kenangan indah saat bersamanya. Sehabis sholat Ridwan tak luput berdoa mengalir lembut dari mulutnya, agar istrinya itu di tempatkan sebaik-baiknya tempat di sisi Allah SWT. Apabila Ridwan tengah seorang diri, ia selalu ingat pada istrinya, bahkan sering terucap dalam hatinya, "Andai saja anak yang di kandung istriku tidak ikut bersama ibunya, aku akan mengurus anakku penuh kasih sayang dan ketulusan dalam merawatnya. Dan mungkin aku tak terlalu kesepian dengan jalan hidupku." Setiap alunan bisik hati itu keluar, Ridwan acapkali meneteskan air mata sembari tersenyum penuh rasa puas, meski hal itu sebatas suara dalam hatinya. Dan setiap hendak berangkat kerja, pandangan matanya selalu tertuju pada bingkai foto istrinya sambil tersenyum, bahkan sekalipun tiap pulang kerja, ketika masuk rumahnya yang pertama ditatapnya ialah potret istrinya lagi sembari tersenyum kembali. Seolah-olah rasa kasih sayang dan rindunya tiada pernah putus ia berikan sepenuhnya untuk almarhummah istrinya, tak lekang waktu hingga akhir usianya... Meski Ridwan hidup dalam kesendiriaan, ia tak pernah mengeluh, ia selalu menjalani hidupnya penuh senyuman dan kebahagiaan yang tersembunyi di balik hatinya. Ketika Ridwan jatuh sakit dan setiap Ridwan sakit ia merawat dirinya sendiri. Meski dalam keadaan tubuhnya lemas dan lemah tak bertenaga, walau demikian Ridwan tak pernah mengabaikan kewajibannya untuk menunaikan ibadah sholat, Meski terkadang sholatnya dalam kedaan berbaring di tempat tidurnya. Di rumah Ridwan yang sederhana itu, ia tak mempunyai seorang pembantu maka dari itulah segala sesuatunya dikerjakan sendiri. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, cuci piring, dan cuci bajunya sendiri hingga memasak pun ia lakukan sendiri. Banyak tetangganya yang merasa iba serta kagum kepada sosok seorang Ridwan, bahkan tidak sedikit tetangga yang menawarkan untuk menikah dan mencarikan calon untuknya. Namun setiap saran itu Ridwan selalu berkata bahwa ia masih ingin menjalani hidup sendiri. Dan para tetangga pun bisa memahaminya meski mereka selalu penuh tanda tanya. Kenapa setiap jawaban Ridwan selalu begitu, meski jawabannya selalu demikian, para tetangga tak pernah berprasangka buruk terhadapnya, karena di mata mereka Ridwan itu sosok orang yang baik meski terkadang sedikit aneh. Karena tidak seperti laki-laki pada umumnya yang biasanya, laki-laki yang ditinggalkan oleh istrinya ia akan menikah lagi, sedangkan Ridwan tidak seperti itu. Yang menyarankan untuk menikah lagi ternyata bukan dari tetangga saja, melainkan dari rekan kerjanya, mertuanya, bahkan kedua orang tuanya sendiri, tapi Ridwan selalu menjawab seperti itu... Suatu ketika Ridwan dipindahkan lagi kerjanya ke Jakarta. Saat mengemasi barang-barang bawaanya untuk ke Jakarta, yang ia dahulukan adalah potret istrinya, ia masukan ke kopor bawaanya dengan penuh perasaaan dan secara perlahan-lahan, sesekali ia pandang terus potret tersebut seakan tak pernah jemu untuk memandanginya. Di Jakarta untuk sementara, ia tinggal di rumah kedua orang tuanya, karena Ridwan berencana untuk membangun rumah lagi di sebelah rumah orang tuanya... Saat Ridwan datang ke rumah kedua orang tuanya, kakak-kakaknya Ridwan sudah ada di rumah orang tua Ridwan, mereka menyambut penuh senyum dan kebahagiaan, terkecuali ibunya Ridwan, ia bukannya senang melihatnya anaknya, setibanya dari Bandung. Pada dasarnya ibunya itu bahagia dengan kedatangan Ridwan, namun karena ingat akan kejadiaan masa lalu dalam rumah tangga Ridwan, hingga sang ibu menangis. Lalu Ridwan mencoba untuk mendekati ibunya seraya berkata pada ibunya, "Ibuku tercinta... Kenapa ibu menangis?" Ibunya menjawab, "Ibu hanya ingat almarhummah istrimu... Mestinya kau datang ke sini bersama menantu dan cucuku." Ridwan pun berkata pada ibunya, "Sudahlah, bu... Ini semua udah kehendak Allah dan kita wajib menerimanya dengan ikhlas." Ketika Ridwan berkata demikian, ia sembari mengusap air mata berlinang di kedua pipi ibunya dengan kedua lengannya. Setelah itu ibunya tersenyum pada Ridwan, seakan tangisan itu mesti ditahan agar tidak larut dalam kesedihan... Enam bulan kemudian, rumah baru Ridwan sudah selesai di bangun di samping rumah orang tuanya. Seperti biasanya tiap berangkat dan sepulang kerja, Ridwan tak pernah absen untuk memandang potret istrinya. Karena bagi Ridwan dengan selalu memandang potret istrinya, ia merasa lebih bersemangat lagi dalam menjalani hidupnya. Saat ini beban dalam kesendiriaanya sedikit berkurang karena ia tinggal bersebelahan dengan rumah orang tuanya... Secara bersamaan pula, ternyata Farida tidak mempunyai kanker otak lagi, ia berhasil dioprasi oleh para medis di rumah sakit Singapura. Namun kabar hal ini, tidak banyak orang lain tahu termasuk Ridwan begitupun kedua orang tuanya... Di suatu hari, ibu Ridwan tak pernah berhenti memberi saran pada Ridwan, agar ia menikah lagi dengan alasan tidak baik menjalani hidup seorang diri , karena itu perlu seorang pendamping, namun Ridwan selalu menjawab kalau ia ingin hidup sendiri dengan alasan demi mempertahankan cinta utuhnya terhadap almarhummah istrinya. Ibunya sangat memehami karakter anaknya, ia pun segera berpaling dari hadapan Ridwan, lalu masuk ke kamarnya sembari meneteskan air mata dan berdoa agar Ridwan menikah lagi dan segera punya cucu darinya. Ibunya berdoa demikian, karena ia sangat menginginkan cucu dari anak terakhirnya yaitu Ridwan. Dan doa itu selalu terniang sehabis ibunya sholat. Berdoa seperti itu bukan hanya ibunya Ridwan saja, bahkan mertua ibunya almarhummah Nadia. Saking sayang terhadap Ridwan seperti anaknya sendiri, ibu Nadia pernah bilang pada Ridwan, seandainya Nadia punya adik perempuan, mungkin akan dinikahkan dengan Ridwan, tapi nyatanya Nadia tidak mempunyai seorang adik perempuan. Ketika ibu Nadia bilang demikian, Ridwan hanya sanggup tersenyum saja pada ibunya Nadia, tanpa ucapkan sepatah kata pun... Suatu ketika, secara diam-diam ibu dan ayah Ridwan bersilaturohim ke rumah Farida. Dan ibu Farida sudah tahu tentang kabar Farida, hingga Farida saat ini sudah sembuh total dari kanker otaknya dan ia juga belum menikah, akan tetapi setahun yang lalu sudah bertunangan dengan pemuda bernama Mukhlis asal Bandung yang bekerja di Jakarta. Namun Mukhlis mengalami kecelakaan saat mengemudi kendaraannya tertabrak oleh mobil bus, hingga ia meninggal dunia. Saat mendengarnya ibu dan ayah Ridwan turut berduka cita atas kejadian itu... "Namun sayang sekali meski demikian, lagipula Ridwan belum tentu akan menikah lagi." Bisik ibu Ridwan dalam hatinya. Farida pun mulai tahu tentang keadaan Ridwan. Ia tahu dari ibu Ridwan yang menceritakan semuanya kepada ibu Farida dan juga Farida. Lalu ibunya Ridwan bertanya kepada Farida, "Apakah nak Farida, masih mencintai anakku Ridwan?" Farida tersipu malu, bahkan ia tak menjawabnya, malahan Farida hanya memberi senyuman pada ibunya Ridwan. Dan setelah itu ibunya Ridwan, tak membahasnya lagi karena hal itu masalah pribadi Farida. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan penuh dengan suka cita antara ibunya Ridwan dan ibunya Farida. Lalu ibu dan ayah Ridwan berpamitan untuk pulang... Ketika Ridwan sepulang kerja, ibunya Ridwan menghampiri Ridwan dan bertanya padanya, "Bagaimana kalau kamu menikah dengan Farida?" Saat mendengarnya, kala itu Ridwan tengah mereguk teh hangat buatannya sendiri, ketika meminum teh hangat dalam cawan berwarna hitam pekat, lalu Ridwan melirik ibunya tanpa melepaskan cawan itu dari bibirnya. Mungkin karena Ridwan merasa sesutau hal yang aneh, karena selama ini nama itu tak pernah ingat lagi di benaknya. Hingga saat mendengar nama itu, Ridwan tak menjawab apapun pada ibunya. Ia hanya bilang pada ibunya, kalau dia meminta izin untuk mandi, setelah keringat yang nempel di tubuhnya selama pulang kerja, membuat ia merasa tak nyaman. Ibunya merasa heran dan bicara dalam hatinya, "Kenapa saat bilang nama Farida... ia tak menjawab apapun, padahal setiap disebut nama lain, ia selalu bilang begitu dan begitu! Apakah mungkin anakku masih menyukai Farida?! Entahlah hanya anakku yang tahu! Tapi, sudahlah aku tak perlu membahasnya lagi, takutnya anakku bertambah sedih dengan keadaanya sekarang." Ibunya bicara dalam hatinya seperti itu, karena ia takut menambah beban anaknya, hingga ibunya merasa tak perlu membahas soal pernikahan lagi pada Ridwan. Yang terpenting jikalau dia merasa senang dalam kesendirian, ibunya turut bahagia... Suatu ketika pada hari minggu, kedua orang tua Farida serta Farida berkunjung ke rumah orang tua Ridwan. Dengan maksud bertujuan hendak menikahkan Farida dengan Ridwan, agar Ridwan tidak lagi menjalani hari-harinya seorang diri. Setelah itu Ridwan dan Farida mengobrol secara empat mata. Ridwan pun bertanya pada Farida, "Kenapa kamu ingin menikahiku?" Lalu Farida tersenyum dan menjawabnya, "Karena aku tahu tentang dirimu...! Andai saja aku tak melakukan hal ini, pasti hidupmu akan terus dilalui dengan kesendirian. dan aku tahu, dirimu berniat tak ingin menikah lagi, karena kamu berniat setia dunia akhirat terhadap almarhummah istrimu." Farida tahu tentang Ridwan begitu, karena ibu Ridwan pernah menceritakan pada Farida. Dan saat itu juga, Ridwan menanyakannya tentang hal itu, lalu Farida pun menjelaskannya bahwa ia pernah bertemu dengan ibunya Ridwan. Lalu Farida berkata pada Ridwan, "Kenapa saat itu kamu gak bertanya padaku?! Apakah aku ingin dipolygami? Andai saja kamu berkata demikian... Maka aku akan menjawabnya saat itu juga dengan kata "ya"... Tapi saat itu kamu tidak menanyakannya padaku..." Setelah mendengarnya, Ridwan hanya tersenyum kagum terhadap Farida. Ridwan bertanya pada Farida, "Kenapa kalau sudah tahu aku ingin setia dunia akhirat, kamu malah hendak ingin melemar dan menikahiku?" Farida menjawab, "Kamu boleh menikahiku dengan batasan tertentu, yaitu aku bisa memiliki dirimu secara halal hanya di dunia saja, sedangkan di akhirat kelak hanya milik anakmu dan istrimu." Ridwan terdiam sejenak dan terpaku dengan ucapan Farida itu. Karena Ridwan tak sedikitpun mengira Farida akan berkata demikian padanya. Setelah termenung sejenak Ridwan berkata, "Aku mau menikah denganmu dengan syarat, kau juga boleh tinggal di akhirat kelak. Insya Allah, Amin Ya Robbal 'alamin..." Lalu mereka berdua tersenyum indah penuh kebahagiaan....
TAMAT
Jumat, 26 Maret 2010

Di balik awan putih
Indah terlena
Di balik awan putih
Indah mempesona
Di balik awan putih
Lambaikan harapan
Di balik awan putih
Mengundang penasaran
Binar matanya
Penuh ketulusan
Paras indahnya
Penuh kelembutan
Andai terdampar dalam pilihan
Dirinya yakin hanya dia seorang
Persamaan dalam visi misi dibutuhkan
Bagaimana memandang segi kehidupan
Andai terdampar untuk dipilih
Panjatkan doa penuh tawadhu
Andai tercipta tiada terpilih
Dirinya ikhlas sepenuh hati
Tiada noda terbawa arus keindahan
Sekeping doa indahnya
Bertahan dalam harapan
Sekeping doa indahnya
Bertahan dalam senyuman
Tiada pernah luntur
Dalam kisah separuh
Bulan terbelah rata
Menanti bulatan indah
Sabar dalam harapan
Sabar dalam penantian
Langganan:
Postingan (Atom)
