Popular Posts
-
Ada hal diluar dugaan Sebelumnya kubayangkan Akan terhalang sesuatu Antara ruang dan waktu Apakah ini suatu pertanda? Bahwa ruang dan waktu ...
-
26-06-2010 13:30 Satu alam di ruang berbeda Hadir sosok bayangnya Melayang di angan-angan Menari-nari di dalam ruang Terdiam sulit ekspresik...
-
Tanpa kau sadari Kau ajariku cinta Kau ajariku mencinta Meski jiwa raga tak menyatu Meski tiada suatu ikatan Namun bayangmu selalu ada Sungg...
-
Rumus hidup sudah benar adanya Hal terindah bagaimana sikap dan cara menyikapinya Dengan suka, lebih bersyukur dalam menyikapinya Dengan duk...
-
Seorang pemuda jujur bekerja sebagai karyawan biasa, lalu pemuda itu melakukan kesalahan ia mengambil uang rekan kerjanya. Saat itu re...
-
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu" Allah Ta'ala menyuruh hamba-Nya, terhadap apa yang mereka dambakan dari kebai...
-
Segenggam harapan Kepalan dalam tangan Bertahan dalam nyanyian Nyaris tak terdengar Menutup segala ruang Memendung segala celah Membungkam a...
-
Dikau tak sempurna Begitu pun daku tak sempurna Hidup dan cinta tak butuh kesempurnaan Namun sikapi semuanya dengan sempurna Meminimalisir y...
-
Melukis bintang di tengah terang benderang Kuwarnai dengan cat lembayung senja Di atas kanvas berkain kehidupan Menggoreskan kuas ...
-
Terkadang selalu berpikir dalam benak Kenapa ku suka padanya? Mungkin ku salah menyukai Mungkin ku salah menempatkan Mungkin dia terlalu ind...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Mengenai Saya
Pengikut
Jumat, 28 Januari 2011

"Cinta kunci segala jendela kehidupan... Dengan cinta, mengajarkan kasih sayang antar sesama makhluk. Dengan cinta, dapat mempersatukan pria dan wanita. Dengan cinta, kejahatan dibalas dengan kebaikan. Dengan cinta, perbedaan dijadikan bagian dari persatuan. Dengan cinta, dapat merubah iblis jadi malaikat. Dengan cinta, dapat merubah permusuhan jadi persahabatan. Dengan cinta, dapat merubah kebencian jadi persaudaraan. Bahkan dengan kekuatan cinta pula, dunia penuh peperangan jadi kedamaian, kenyamanan dan ketentraman seutuhnya... Subhanalloh..."
kadang ada hal yang rumit dan sulit dipahami dalam kehidupan, yang terkadang terlalu fokus terhadap problem dan hawa nafsunya dibandingkan dengan siapanya. Tapi ada satu hal yang mudah untuk dipahami dan dimengerti... "Menjaga persahabatan dan tali persaudaraan dalam indahnya kebersamaan adalah paling utama dari problem itu sendiri, bahkan sesuatu hal indah dari apapun jua..."
Bertindak segalanya karena Allah... Ikhlas Lillahi Ta'ala adalah memurnikan, mensucikan, menjernihkan dan membersihkan niat dan perbuatan selama hidup di dunia, tanpa menodai amal ibadah dengan mengharap balasan (pamrih) dan pujian dari manusia, akan tetapi mengharap Balasan-Nya dan Ridho-Nya Allah semata...
Tulus ikhlas dalam semua amal perbuatannya Kepada Allah dan benar-benar mengikuti tuntunan serta petunjuk Rasulullah SAW... Amalan yang diterima olah Allah Azza Wajalla mesti memenuhi syarat: 1. Ikhlas Karena Allah Ta'ala 2. Sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW... Dengan demikian, jika amalan itu dilakukan secara ikhlas, tetapi tiada sesuai dengan tuntunan baginda Muhammad SAW, maka tiada diterima...
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang amalannya tidak menurut tuntunan kami, maka amalan itu ditolak."
(HR. Muslim)
"Sesungguhnya orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah menyebut Allah, kecuali sedikit. Sekali mereka ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kufur)..."
(QS. An Nisaa: 142-143)
Dalam kebersihan hati terdapat lentera yang amat terang menyinarinya, terdapat niat yang tulus dan suci, tiada pernah mencampuradukan dengan yang suci dan noda, membiarkan noda terpisah dengan yang suci, sesuatu yang suci indah dan bersih... Dan semua perbuatannya semata-mata karena Allah Ta'ala...
Para ulama berbeda pendapat: Pendapat 1.: Ambilah hadits2 shohih dan abaikanlah hadits2 dhoif apalagi palsu... Pendapat 2.: Hadits shohih ataupun hadits dhoif tiada masalah yang terpenting jangan hadits palsu, apalagi pendapat sendiri/golongan (yang di dalamnya melebih-lebihi dan mngurang-ngurangi)... Wallohu'alam... Sebaik-baik dan setepat-tepatnya menafsirkan ayat Al-Qur'an dengan ayat Al-Qur'an... Sebab ada kalanya disingkat dalam suatu ayat diperjelas di ayat lain... Tetapi jika tidak mendapatkan penjelasan dari ayat Al-Qura'an yang lain, maka hendaklah merujuk keada Al-Hadits (As-Snnah)... Sebab Al-Hadits itu berfungsi untuk menjelaskan dan menjabarkan ayat Al-Qur'an, sebagaimana dinyatakan dalam Firman Allah Ta'ala: "Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS. An-Nahl: 64)... Dan dalam hal ini, adapun menafsirkan Al-Qur'an atas dasar pikiran semata, bahkan pendapatnya sendiri ataupun golongan, misalkan karena sudah mengerti bahasa Arab dan hukumnya haram... "Barangsiapa yang menafsirkan ayat Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri atau dengan apa yang tidak ia ketahui, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Tirmidzi dan Nasa'i)...
Terkadang hidup itu pilihan... Memilih ataupun dipilih... Namun hal itu bukan suatu masalah, karena ada hal yang lebih penting dan utama dari hal itu semua. Yakni menjadi pilihan Allah, yang kelak calon masuk surga...
Teruntuk kaum apapun, sekiranya menyimpang dari ajaran Allah dan Rasul-Nya, mohon dengan sangat, jangan lukai umat islam dengan mengatasnamakan islam. Dalam hal ini tidak mempermasalahkan problemnya, tapi lihatlah dari sisi lain yakni persaudaraannya. Amanah ini hanya sekedar mengingatkan antar sesama persaudaraan dalam naungan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jikalau hendak islam, maka sesuaikanlah dengan prinsip islam (rukun iman dan islam) secara utuh, yang sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya...
Kadang dengan tergesa-gesa, memungkinkan berpikir yang bukan-bukan, yang terkadang sebenarnya hal itu tidak samasekali demikian... Namun dengan penuh kehati-hatian, berpikirpun selalu positif hingga hal itu memiliki rasa ketentraman tersendiri dalam jiwa dan raga, hingga apa yang tengah dihadapi serasa nyaman dengan hal itu dan hati pun lebih terkendali dari suatu yang tak diharapkan terjadi...
Diri ini boleh menyenangkan yang lain, hingga yang lain merasakan senyum dan tawa bahagia... Tapi diri ini, tiada boleh dan tiada hak untuk menyakiti dan melukai perasaan yang lain... Bahkan tak punya hak untuk mematahkan hati siapapun jua...
Kedudukan wanita lebih mulia dari laki-laki, kedudukannya 3 tingkat dari laki-laki... Muliakanlah, wanita sebagaimana mestinya... Karena islam itu mengajarkan untuk memuliakan kaum wanita... Subhanalloh...
Hidup itu pilihan, ada kebaikan (madu) dan ada pula keburukan (racun)... Semuanya tergantung pada diri kita masing-masing, hendak pilih madu atau racun... Jikalau pilih madu, keburukan dibalas dengan kebaikan. Jikalau pilih racun, lakukan sesuka hati kita membalas keburukan dengan keburukan pula... Meniti hidup tergantung langkah kita, hendak pilih jalan yang mana...?! Dan apapun yang dilakukan nanti, semua ada pertanggungjawaban...
Ada satu hal yang sering dilupakan dan diabaikan dalam berpolitik... Yakni, sosok orang agamis kurang begitu disukai masyarakat secara luas. Bahkan masyarakat lebih menyukai sosok seorang pemimpin ataupun calon pemimpin nasionalis dibandingkan agamis. Yang lebih riskan lagi banyak orang berpendapat, "Bahwa tokoh agama kurang etis untuk berpolitik." Padahal dalam islam, sudah cukup jelas dan tegas, bahwa islam sebagai cahaya dan petunjuk dibidang politik, ekonomi, keluarga dll (segala aspek kehidupan)...
Teringat seseorang, yang pernah mengungkapkan mengenai sosok seorang ibu dengan cara yang sederhana, namun memiliki arti yang cukup luar biasa bagiku... Ia meluahkan, "Ibu memang sangat berperan dalam kehidupan setiap insan manusia di muka bumi ini..." Subhanalloh...
Ketika kumeluahkan, "Ia terlalu istimewa, jemput harapannya, berikanlah ia hidup dan bahagia..." Lantas seorang sahabat mengemukakan, "Apa karena istimewa, menghinar? Dan apa karena istimewa pula, istimewa itu takkan mampu menerima apa adanya, serta kekurangan dan kelebihan? Apakah harus menjawab, "Anda tidak akan mengerti!" Dan semut kecil bijaksana berkata, "Jujurlah pada suara hatimu.....!"
Seorang sahabat meluahkan, "Dalam keadaan senang masih bisa tersenyum, itu biasa..... Dan dalam keadaan sebaliknyapun masih tetap mampu untuk tersenyum....... Itu baru luar biasa...." Subhanalloh...
Tiada perlu menjadi sesuatu hal yang mewah bahkan ingin terlihat megah dan mewah, cukup dengan kesederhanaan pun akan menjadi istimewa... Kesederhanaan bukan sesuatu hal yang hina, yang hina ketika kemewahan dan kesederhanaan itu dijadikan sarana kebanggaan dan kesombongan (riya)... "Mewah, megah, biasa ataupun sederhana... Yang terpenting jujur, jadi diri sendiri, apa adanya... Dan bingkai semua hal itu dalam kerendahan hati (tawadhu)..." Hanyalah Engkau yang patut sombong dan Maha Kaya, Allah Azza Wajalla...
Teringat dan ada benarnya nasihat seorang sahabat,"Banyak bicara akan memungkinkan banyak salahnya dibandingkan benarnya... Dan diam pula, tak ada salahnya untuk mengendalikan diri dari suatu kesalahan, meskipun hal itu selemah-lemahnya iman... Namun ada yang lebih baik dari hal itu, banyak bertindak dan bicara, tapi tetap terkendali diri dari suatu kesalahan tersebut..."
kadang ada rasa ego dalam diri, terkadang mempertahankan hawa nafsunya masing-masing, bahkan ketika Allah memberi Hidayah pun (memberi keringanan dan kemudahan dalam masalah tersebut)... Bahkan Hidayah Allah pun ditekan demi mempertahankan hawa nafsu tersebut, dan tanpa disadari memberi keputusan yang memberatkan dan melebih-lebihkan yang ada... Yang terkadang karena hal itu timbul prasangka buruk di antara masing-masing... Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan...
Harapan terindah: "Hadir setangkai bunga mawar dalam taman hati (jadi satu), yang selalu hiasi hari-hari dan bersama-sama untuk selamanya, hingga rambut memutih, ajal menjemput dan bertemu di surga kelak... Amin, Insya Allah... Dan satu hal lagi, tiada suka dengan perceraian (perpisahan) di dalamnya, karena dalam hal ini suatu yang menakutkan, sebab menyatu (bersatu) seutuhnya, hal sakral dan terpenting dalam hidup..."
Terkadang menganggap, sabar itu adalah suatu kelemahan, sehingga ada saja yang berlaku sesuka hatinya terhadap suatu kesabaran tersebut... Padahal dengan kesabaran itu mampu kendalikan diri dari suatu hawa nafsu, terhindar berbuat dari tiada diharapkan, bahkan terhadap maksiat dan dosa sekalipun...
Seorang sahabat meluahkan, "Diam itu emas dan bicara baik itu berlian..." Subhanalloh, sebuah kalimat nan indah sekali...
Insan yang selalu berpikir negatif (prasangka buruk), insan yang cenderung selalu berprasangka buruk terhadap insan lain, tanpa bukti dan tiada alasan yang cukup mengetahuinya... Bahkan ironisnya lagi pikiran buruk dalam benaknya akan mendatangkan fitnah baginya dan insan yang memfitnahnya. Hingga yang mengundang fitnah, bukanlah insan yang difitnah, akan tetapi hasil dari hatinya dan dari insan (mereka) itu sendiri... Yang sesungguhnya datangnya dari hatinya yang penuh noda (kotor) dan perusak /parasit (fasik). Bahkan yang lebih bahayanya lagi tanpa ia sadari insan tersebut telah melampaui batas kemampuan dari melebihi apa yang diketahui Allah Azza Wajalla... "Fitnah lebih keji dari pembunuhan..."
Kasih sayang itu memberi, memberi dan memberi, dan tiada harap kembali bahkan menerima sekalipun... Ia hadir dari hati yang paling dalam, penuh ketulusan dan keikhlasan, yang datangnya dari inisiatif diri sendiri... Tiada banyak meminta kecuali memberi setulus dan sepenuh hati...
Berawal niat baik, dan ujungnya pun berakhir dengan cara yang baik pula...
Terkadang insan itu ikhlas karena ada sebab, bukan diawali niat sungguh-sungguh ikhlas Lillahi Ta'ala, akan tetapi ikhlas itu hadir setelah adanya rasa iba (kasihan) dalam dirinya...
Ikuti suara hati, suara hati suara tulus dan kejujuran, yang di dalamnya tiada mengada-ada dan rekayasa, lakukan segala sesuatunya Lillahi Ta'ala... Tak usah bohongi hati, bagaimanapun tiada dapat dihindari, suara hati sarana mewujudkan sesuatu dan tindakan sarana mewujudkan jadi nyata...
Bidadari bumi, selalu tampak wajah berseri, tiada murung bahkan putus asa, ia selalu tersenyum dalam keadaan apapun jua, bahkan ketika mentari terbitpun ia sambut dengan senyum penuh bahagia... Sang mentaripun bertanya, "Kenapa tersenyum akan kehadiranku?" Sang bidadari pun menjawab, "Bidadari surga tak seindah bidadari bumi..."






Terkadang gundah gulana terhadap sesuatu yang tak pasti, hanya berdoa dan berusaha untuk mewujudkan hal itu... Dan kepastian hanya milik Allah semata, terwujud ataupun tidak, hal itu sesuatu hal biasa dalam hidup, dan jawaban dari akhir semuanya "ikhlas mendapatkan sesuatu" dan " ikhlas merelakan sesuatu"... Dan kunci dari semuanya, hadapi apapun yang terjadi kelak...


Ada seseorang yang mengemukakan sebuah pernyataan, "Bahwa logika dan hati semestinya bersatu..." Dan dalam hal ini, aku pun menyetujui sebuah kalimat indah ini. Karena apapun alasannya, bersatu itu lebih baik dibandingkan dengan terpisah... Karena dengan bersatu, sejalan dan seirama dalam menggapai sebuah tujuan tanpa mesti ada yang diperselisihkan...


































Terkadang kita lupa akan disetiap kejadian pasti ada hikmah terkandung di dalamnya, namun kadang pula kita tidak hendak belajar dan berpikir akan hal disetiap kejadian tersebut... Ironisnya kita sering sibuk mencari alasan bahkan beribu alasan untuk menyalahkan yang lain, dibandingkan memperbaiki diri untuk lebih baik dari sebelumnya...


HIBURAN: Bagaimana menurut akhi dan ukhti semuanya, terhadap istilah ini... (A) Laki-laki buaya darat (B) Wanita racun dunia (C) Kedua-duanya benar (D) Kedua-duanya salah (E) Tidak semua laki-laki demikian dan pula, tidak semua wanita pun demikian... "Dalam hal ini anggap saja hiburan semata, tak usah diambil serius, tapi tanggapi dengan bijak yang mengundang senyuman..."



Kebenaran, fakta, jujur dan adil takkan pernah memihak, ia kan mengalir apa adanya sesuai dengan suatu titik tujuan yang dimaksudkan. Kalaupun ada memihak dan pihak bersangkutan, hal itu karena atas dasar kesesuaian dalam kebenaran, fakta, jujur dan adil itu sendiri...
Sekedar mengingatkan... Jangan membodohkan masyarakat awam yang membuat mereka bingung, membingungkan dan kebingungan dalam sebuah perbedaan dan pilihan. Jikalau terdapat sebuah perbedaan dan pilihan, hendaknya beritahukanlah terhadap mereka pilihan A, B ataupun C. Jangan ditutup-tutupi demi mempertahankan dan memenangkan suatu pendapat, kepentingan nafsu pribadi / golongan semata dll... Karena Nabi SAW, mengajarkan bijaksana / pertengahan, jika ada suatu pendapat hasil ijtihad... Dan jikalau pembahasannya di luar hal ini, hendaknya penjelasan itu di awali Qur'an dan Hadits lalu pendapat hasil ijtihad, jikalau hal itu ada dan diperlukan...
Adil dan bijak: Terkadang menimbang-nimbang sesuatunya, tak selalu identik dengan berat dan banyaknya. Kadang pula, dengan daya unit yang cukup pun dapat menjadi sesuatu hal yang di Ridhoi Illahi. Seperti halnya dengan amal sedekah, Allah tidak melihat seberapa jumlah yang disedekahkannya, tapi bagaimana niat dan keikhlasannya terhadap Allah Azza Wajalla...
Kadang wujud bahagia itu gaib dan tidak selalu cenderung berbentuk sebuah wujud, karena bentuknya hanya dapat dirasakan getarannya dalam sanubari... Seperti halnya, berbuat dan bertindak karena Allah Ta'ala, hal itu kan terbentuknya sebuah kebahagiaan tiada tara dan tersendiri, yang tak dapat diukur kadarnya dengan wujud kebahagiaan lainnya...
Terkadang dalam benak dan hati, berpikir dan berbisik, "Tiada ingin melukis di dinding udara dan di genangan air... Akan tetapi ingin melukis di dasar hati yang paling dalam, hingga menggumpal doa dan berusaha, untuk mampu mewujudkannya jadi nyata, sesuai dengan yang diharapkan..."
Terkadang gundah gulana terhadap sesuatu yang tak pasti, hanya berdoa dan berusaha untuk mewujudkan hal itu... Dan kepastian hanya milik Allah semata, terwujud ataupun tidak, hal itu sesuatu hal biasa dalam hidup, dan jawaban dari akhir semuanya "ikhlas mendapatkan sesuatu" dan " ikhlas merelakan sesuatu"... Dan kunci dari semuanya, hadapi apapun yang terjadi kelak...
Secara pribadi kedua hal ini bagus: "(1) 'ikhlas mendapatkan sesuatu' dan (2) 'ikhlas merelakan sesuatu'..." Tapi secara naluri manusia dan keinginan: "Sepertinya... 'ikhlas mendapatkan sesuatu' mungkin jauh lebih baik, dibandingkan 'ikhlas merelakan sesuatu'... Dan mungkin pula lebih mendatangkan bahagia..."
Ada seseorang yang mengemukakan sebuah pernyataan, "Bahwa logika dan hati semestinya bersatu..." Dan dalam hal ini, aku pun menyetujui sebuah kalimat indah ini. Karena apapun alasannya, bersatu itu lebih baik dibandingkan dengan terpisah... Karena dengan bersatu, sejalan dan seirama dalam menggapai sebuah tujuan tanpa mesti ada yang diperselisihkan...
Jikalau orang tengah marah ataupun tidak menyukai terhadap kita karena suatu kekhilafan, terkadang hati merasa tiada tenang dengan suatu kesalahan itu... Akan tetapi ketika orang tengah senyum bahagia oleh kita, hati kan serasa lebih tenang dan nyaman, bahkan turut serta bahagia...
Pada dasarnya ada hal saling mengerti dan memahami satu sama lainnya. Akan tetapi kadang pula hal itu menjadi suatu masalah tersendiri, yang terkadang saling berhati-hati dalam setiap perbuatan. Bahkan seringkali sulit, terdiam dan terhenti dalam menyampaikan suatu hal tersebut. Namun setelah hal itu dicoba... Ternyata suatu hal yang diduga itu belum tentu benar dan tepat sebelum mencoba melakukannya...
Bila manusia menginginkan dan merencanakan agar bersatu , sekeras apapun usaha itu takkan pernah bersatu, tanpa Seizin-Nya Allah Ta'ala... Begitupun sebaliknya, pabila manusia menginginkan dan merencanakan agar berpisah, sekeras apapun usaha itu takkan pernah berpisah, tanpa Seizin-Nya Allah Ta'ala...
Terkadang dengan diam menganggap yang lain tak mengerti apa-apa, dengan diam pula orang lain menganggap remeh akan sesuatu hal, dengan diam pula segala sesuatunya akan tuntas apabila memahami dengan sendirinya dan dengan berdiam diri pula, tanpa menempatkan sesuatunya pada tempatnya memungkinkan datangnya masalah baru yang tidak diharapkan terjadi...
"Sabar tiada batas..." Seorang sahabat menambahkan, "Pabila sabar itu dibatasin maka hatilah yang kan selalu resah gelisah, tapi ketika sabar itu tiada batas maka katentraman, ketenangan bahkan kenyamanan akan didapat..... Sabar bukanlah berdiam diri akan tetapi tindakan pun boleh, jika hal itu diperlukan dengan catatan tetap tidak mengurangi makna sabar itu sendiri......." Subhanalloh...
Setan pandai sekali berstrategi. Yang paham saja samar bahkan terkadang terkecoh apalagi bagi yang awam... Setan paling pandai ketika ada sebuah perbedaan, padahal perbedaan itu belum tentu buruk di mata Allah Ta'ala... Di dalam perbedaan itu, setan memasuki dengan cara yang cerdas, agar dalam perbedaan itu terus-menerus dalam bingkai perselisihan dan permusuhan... Karena setan bertabiat pembangkang, maka serapan pada manusia pun ada tabiat membangkang dan takabur. Dalam dirinya seolah mengetahui apa yang tidak diketahui... Seolah mengetahui dan melebihi apa yang diketahui Allah Subhanahu Wata'ala... Yang jadi pertanyaan, apa kita hendak mengikuti hawa nafsu (setan) yang sombong dan berani membangkang kepada Allah Azza Wajalla...?! "Setelah ruh masuk ke dalam seluruh jasadnya, tiba-tiba Adam bersin, lalu berkata, "Alhamdulillahi Robbal'alamin." Disambut Allah Ta'ala, "Yarhamukalloh, ya Adam." Kemudian Allah SWT memerintahkan malaikat yang bersama iblis itu supaya sujud kepada Adam, maka sujudlah semua malaikat, kecuali iblis yang sombong dan menolak perintah. Iblis berkata, "Aku tidak mau sujud, karena aku lebih baik dan lebih tua daripada dia serta asalku lebih kuat. Engkau telah menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah liat. Sesungguhnya api lebih kuat daripada tanah liat." Ketika itu iblis dijauhkan dari segala kebaikan dan dijadikan setan terkutuk sebagai hukuman atas pembangkangannya... Allah Ta'ala Berfirman:
"Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengethui." (QS. Al-A'raaf: 200)
"Dan katakanlah; 'Ya Tuhan-ku, aku berlindung Kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) Kepada-Mu, Ya Tuhan-ku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS. Al-Mu'minun: 97-98)
"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Maka mohonlah perlindungan Kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat: 34-36)
"Demi kekuasaan Engkau, aku (setan) akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali Hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka." (QS. Shaad: 82-83)
"Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Faathir: 6)
Afwan pada akhi dan ukhti... Sekiranya pembahasan itu mengenai berbeda pandangan... Mohon dengan sangat hindari pandangan mengenai hal itu, sebab takutnya akan terjadi masalah baru, fitnah bahkan perselisihan dan saling melukai hati satu sama lainnya... Kalaupun hendak membahasnya, sekiranya pertengahan hal itu lebih baik (kemukakan semua perbedaan pandangan tersebut)... Hal salah ataupun benar, kembalikan Kepada Allah Ta'ala, karena hanyalah Dia yang lebih berhak menilainya... Dan hanya Allah yang lebih Maha Mengetahuinya...
Makin memperuncing suatu pokok masalah, semakin akan jauh dari solusi itu. Namun makin berbuat sesuatu lebih bijak lagi, semakin mendekati solusinya, paling tidak pertengahan (netral). Bahkan akan menemukan titik terang dari solusi tersebut sekalipun... Terkadang solusi itu ada dalam beda pandangan, yakni kedua-duanya benar dan sama-sama kuat alasannya... Sesuai dengan aturan main yang ada...
Terkadang mengambil suatu keputusan, sesuatu hal bukan jawaban yang diinginkan karena terkadang tanpa disadari, keputusan itu memberi sesuatu kesempatan terhadap yang lain mengambil posisi tersebut. Namun mengambil keputusan lebih bijak kan membawa sebuah harapan sesuai dengan yang diinginkan, meskipun hal itu terkadang di sisi lain tak sesuai dengan yang diharapkan hati nurani...
Segala hal dalam jalani hidup adalah belajar. Belajar tiada batasnya, hingga nafas penghabisan. Dengan belajar pula kan membuahkan hasil ilmu pengetahuan dan pula kan memetik sebuah pencapaian yang diharapkan. Sederhananya, "Yang tidak tahu menjadi banyak tahu..."
Di sela waktu rasa bathin selalu menjelang, dengan penghubung sinyal yang kuat, hadirkan kontak bathin di suatu jarak, hingga saling memahami rasa satu sama lainnya... Wujudnya mampu menyatukan dalam logika dan hati, sanggup mempertahankan logika untuk tak merubah pikiran, sanggup mempertahankan hati untuk tak ke lain hati... Subhanalloh, dan hanyalah Allah yang mampu merubah segala sesuatunya...
Bunga selalu dihinggapi oleh sang kumbang, kupu-kupu, lebah, ataupun burung pemakan sari madu, bahkan hama sekalipun. Tapi terkadang ada yang terlupakan, tiada disadari dan diketahui oleh bunga itu sendiri. Apakah ia merasa damai dan nyaman kehadirannya bersama: Kumbang, kupu-kupu, lebah, burung atau hama?!...
Rahasia di balik Rahasia-Nya. Tindakan adalah segala sebuah jawaban. Hadapi semuanya penuh tulus dan ikhlas Lillahi Ta'ala, Untuk mengharap dan menggapai Ridho-Nya Illahi...
Ada hal membahagiakan dari sebuah taman yang makin hari semakin indah, bersih dan asri... Saking indahnya sebuah taman itu...! Semakin tersipu malu terhadap taman tersebut, jikalau terus-menerus untuk memandangnya lebih lama... Sesekali menatap dan berpaling, karena salah tingkah untuk terus menatap sebuah taman nan indah itu...
Kadang kala pertanyaan tak selalu dijawab dgn suatu pernyataan dan kadang pula diam itu suatu jawaban, Yg kadang sulit untuk diungkap kebenarannya. Tapi mudah untuk dipahami dan dimengerti, di kala tiada suatu pernyataan namun ada suatu pelaksanaan di dalamnya. Dan tergantung apa yang dipikirkan mengenai hal tersebut. Bila berpikir negatif maka hal itu kan negatif, bila berpikir positif maka hal itu kan positif...
Hidup pastinya ada perubahan dan di setiap perubahan tersebut... Ikhlaskan segalanya, terhadap antara ada dan tiada di depan mata... Di setiap perubahan tersebut selalu mengandung Hikmah dan Nikmat yang Allah berikan, hingga lebih meningkatkan rasa syukur dan tawakal terhadap segala apapun yang tengah terjadi...
Kadang kala, menemukan sebuah kebahagiaan dalam diri, yang terkadang hal itu sungguh sulit dan rumit diluahkan, bahkan diungkapkan dengan kata indah sekalipun. Namun hal itu sungguh mudah digambarkan dalam indera kebathinan hingga mampu menuai senyuman...
Ada kalanya, bersabar terhadap sesuatu yang mungkin menimbulkan kesalahpahaman yang tidak diinginkan, ataupun kurang memahami kondisi dan makna yang terkandung di dalam pokok permasalahannya, hingga kurang berhati-hati dalam setiap tindakan. Namun dengan lebih bersabar dan berhati-hati memungkinkan segala tindakan akan lebih meyakinkan dan berperasaan...
Ada hal istimewa di setiap insan, yaitu memiliki sebuah prinsip, dimana prinsip itu tak kenal perubahan. Prinsip itu baik Menurut-Nya dan Rasul-Nya, pertahankan prinsip hingga hela nafas terakhir. Meski terkadang Allah Azza Wajalla berkehendak lain dengan apa yang diharapkan dan diinginkan. Tapi prinsip tetap tersambung dan berlanjut, hingga menemukan sebuah titik penyelesaian tersebut...
Berawal dari sebuah cinta, berujung dengan sebuah pernikahan, menempuh hidup berdua, sehidup semati dalam suka dan duka. Serta memiliki buah hati, hingga cinta dan kasih sayang pun terbagi dua terhadap pasangan dan anak. Segalanaya dikemas dalam bingkai indahnya bahtera keluarga...
Kadang ada hal yang sulit untuk dilupakan, karena hal itu bukan untuk dilupakan. Akan tetapi sebatas untuk dikenang, itupun jikalau ingat akan masa lalu. Mungkin dengan perlahan dapat menyesuaikan keadaan, yang ada di depan mata...
Ketika merasa nyaman dengan sesuatu hal, ketika menemukan dan memiliki sesuatu hal yang berkaitan mengenai apa yang dirasakan telah terungkap dengan sendirinya, baik secara perbuatan, ungkapan ataupun secara tulisan, bahkan bahasa tubuh sekalipun. Di sana kan menemukan sesuatu hal kebahagiaan tersendiri meskipun hal itu belum terjadi ataupun sudah terjadi. Rasa bahagia itu sendiri takkan berkurang sedikitpun karena telah mampu kendalikan diri dari jauh-jauh hari...
Bohong, memungkinkan mendatangkan ketidaknyamanan disetiap bentuk apapun kebohongan tersebut... Jujur, memungkinkan mendatangkan suatu rasa aman, nyaman dan bebas. Dan dengan kejujuran pula mendatangkan tiada beban dalam diri dengan apa yang dimiliki, tanpa mengurangi dan menambah-nambahkan di dalamnya (apa adanya)...
Kelebihan dan kekurangan suatu hal biasa dalam hidup. Tak perlu mempermasalahkan hal itu, karena hidup adalah saling melengkapi satu sama lainnya, dan tak perlu ragu terhadap sesuatu hal yang telah dipercaya ataupun yang telah disepakati bersama...
Sewaktu bunga belum ada yang memiliki, bunga itu kan tetap terjaga dan terawat dengan Kuasa-Nya, meskipun berbagai musim ia lalui, Allah tetap Menyiraminya dengan menurunkan Hujan-Nya, agar bunga tersebut tumbuh subur, sesubur-suburnya tanaman...
Ada hal yangg sering dilupakan, diabaikan bahkan tidak disadari dalam hidup. Meminta, mngharap ataupun mnginginkan ketiga hal ini baik, namun ada hal yang paling baik dan indah dari itu. Yakni inisiatif sendiri yang menunaikannya penuh keikhlasan Lillahi Ta'ala...
Jatuh cinta tak mengenal batas usia, kadang lupa lautan dan daratan. Selama ia mampu dan terkendali hal itu akan baik-baik saja, bahkan ada yang lebih utama dari itu, kita kan lebih Cinta Allah dan Rasul-Nya, yang senantiasa lebih semangat tuk beribadah...
Seutas titipan terbang melayang, melambung tinggi jauh ke angkasa, agar bintang tahu dan memahami, agar bintang tetap bersinar terang, mungkin saat ini terlihat jauh dan renggang, tapi suatu saat nanti mendekat hingga tiada jarak...
Terkadang ada hal yang unik dalam hidup, di saat kita menginginkan hal itu. Di saat itu juga berbeda dengan yang kita duga dan harapkan. Di saat kita tak menginginkan hal itu. Di saat itu pula sesuatu hal yang tidak kita duga dan harapkan terjadi...
Jikalau ada kesepakatan berarti ada persetujuan. Jikalau sudah demikian tak perlu ada perselisihan, tak perlu ada kesalahpahaman dan tak perlu dipermasalahkan. Karena semuanya telah terbalut kesepakatan dengan akal sehat serta penuh kesadaran...
Terkadang kita butuh, akan tetapi yang dibutuhkan tidak membutuhkannya. Terkadang yang lain butuh, akan tetapi kita tidak membutuhkannya. Sebab apa yang kita butuh belum tentu membutuhkannya. Ketika sama-sama butuh terciptalah saling membutuhkan...
Dengan diam tidak tahu apa-apa. Dengan diam juga tak dapat apa-apa. Namun kadang pula dengan diam jadi apa-apa. Dengan diam pula, terasa tenang dan nyaman disertai hati pun lebih terkendali...
Bunga nan indah selalu mengharapkan taman yang nyaman, damai dan aman, dalam harum mewanginya selalu berharap dihiasi kupu-kupu hadir di dekatnya, dan ketika musim berubah, ia mulai menyesuaikan dirinya, agar
harumnya tetap terjaga indah mewangi, tanpa mesti merubah dirinya
menjadi bunga lain...
harumnya tetap terjaga indah mewangi, tanpa mesti merubah dirinya
menjadi bunga lain...
Bila itu salah biarlah menjadi suatu kesalahan, bila itu benar biarlah hal itu menjadi suatu kebenaran... Namun satu keyakinan, kebenaran itu tak dapat direkayasa dan berpura-pura, ia hadir di lubuk hati yang paling dalam, suara hati takkan pernah berdusta karena ia suara kebenaran...
Masa lalu biar berlalu jadi sebuah kenangan dan sejarah dalam hidup... Ketika rindu dan ingat, hal itu jadi sebuah kenangan... Ketika belajar, petik semua hikmah yang ada di belakang dalam sejarah hidup tersebut... Sambut dan hadapi masa depan, menuju hidup lebih baik dari sebelumnya penuh senyum ketulusan...
Terkadang kita lupa akan disetiap kejadian pasti ada hikmah terkandung di dalamnya, namun kadang pula kita tidak hendak belajar dan berpikir akan hal disetiap kejadian tersebut... Ironisnya kita sering sibuk mencari alasan bahkan beribu alasan untuk menyalahkan yang lain, dibandingkan memperbaiki diri untuk lebih baik dari sebelumnya...
Belajar dari pengalaman dan kesalahan, membuat diri jadi lebih kuat dalam menghadapi segala rintangan yang ada, bahkan lebih mampu mengendalikan diri, hingga lebih memahami arti hidup dan makna lebih baik dari sebelumnya...
HIBURAN: Bagaimana menurut akhi dan ukhti semuanya, terhadap istilah ini... (A) Laki-laki buaya darat (B) Wanita racun dunia (C) Kedua-duanya benar (D) Kedua-duanya salah (E) Tidak semua laki-laki demikian dan pula, tidak semua wanita pun demikian... "Dalam hal ini anggap saja hiburan semata, tak usah diambil serius, tapi tanggapi dengan bijak yang mengundang senyuman..."
Terlalu banyak rahasia halaman hidup, yang belum terbuka dan terbaca, kadang ada rasa takut tidak selesai terbaca semuanya, hingga separuh kisah yang tersisa... Hal akhir dari cerita, biarlah Allah yang Maha Menentukan, jalani yang ada di depan mata dan tak usah turut serta mengatur Urusan Kuasa Allah. Allah Maha Tahu dan Maha Adil, apa yang terbaik bagi kita semuanya...
Menatap indahnya langit, menatap indahnya bintang, menatap indahnya rembulan, dalam kondisi seperti hal ini sudah jelas atas sebagian ataupun semua jawaban. Meskipun terhalang kabut disertai gerimis, sang indahnya malam tetap mampu tersenyum, menyambut indahnya esok hari yang kan datang...
Bunga itu makin terlihat indah dan berseri, tak nampak bunga itu akan layu, sepertinya bunga telah menemukan kesabaran dan kesuburan sejati, layaknya tanaman yang selalu disirami di pagi hari dan sore hari... "Jadilah bunga mawar nan indah, anggun dan terlindungi duri-duri keimanan..."
^___^
Selasa, 25 Januari 2011

Entah dari mana datangnya
Setiap saat hadir tiada diundang
Tak pernah menduga sebelumnya
Ia menjelang lembut apa adanya
Tak dapat ditahan, tak dapat dibendung
Mengalir secara natural tiada paksa
Percikan sejuta rasa dalam senyuman
Ada sebuah harapan untuk seseorang
Mungkin hal itu bukan suatu keinginan
Akan tetapi hal itu suatu kebutuhan
Jikalau harapan tak jadi kenyataan
Allah kan menggantinya yang lebih baik
Yang Mungkin jauh lebih bahagia dari harapan itu
Namun apapun alasannya, kau tetap paling indah bagiku
Tahukah kau...
Jika kau menjadi milik orang
Betapa beruntungnya orang itu
Hingga ia mampu dapatkan indahmu
Jikalau hal itu terjadi terhadapmu
Mungkin senyum bisuku iringi langkahmu
Yang mampu terpendam manis di hatiku
Doa tulus pun selalu akan menyertaimu, di mana pun kau berada
Meskipun rasa itu sempat ada di naluriku
Menyisakan sisa-sisa rasa itu dalam hidupku
Yang mungkin rasa itu kan hilang di memoriku
Terkadang terpikir...
Tersimpan rasa ikhlas yang mendalam
Ikhlas untuk mendapatkan dan merelakan
Kita takkan pernah tahu apa yang kan terjadi
Kita hanya mampu berusaha dan merencanakan
Dan karena Kehendak-Nya kan terjadi
Dan karena Kehendak-Nya pula takkan terjadi
Seperti itulah rumus dunia dalam hidup ini
Harapan sederhanamu
Buatku bertahan
Mengitari sekeliling jagat raya
Menanam bibit-bibit kepercayaan
Hingga tumbuh subur dalam sanubari
Menghias segala aspek kehidupan
Kupernah bermimpi...
Kita hidup di gubuk sederhana
Almarhummah ibuku hadir di mimpi itu
Ibuku tersenyum melihat kita berdua
Melihat ibuku tersenyum kubahagia
Dalam mimpi saja kucukup merasa bahagia
Apalagi mimpi itu menjadi kenyataan
Terima kasih, Ya Allah
Engkau membuat ibuku tersenyum
Meski hal itu cuma dalam mimpi
Tapi kadar bahagianya tetap serasa sama
Jikalau kuboleh menyarankan
Tafakurilah syair yang kubuat untukmu
Mengenai orang luar biasa, tetap yang terindah
Dibandingkan orang biasa seperti diriku...
LUAR BIASA
Orang biasa, hanya mampu yang biasa
Orang luar biasa, pasti mampu luar biasa
Di sana kan menemukan luar biasa
Ia kan mampu bahagiakan dunia akhirat
Orang biasa, takkan memiliki apa-apa
Ia mampu berharap secara sederhana
Bahkan terkadang, sederhana pun ia tak dapat
Namun mampu hadapi sesuatu yang ada
Yang belum tentu masuk ke dalam surga
Tapi dengan orang luar biasa
Maka ia kan mampu masuk surga
Orang luar biasa, mampu dalam segalanya
Baik surga dunia maupun surga akhirat
^___^
Sabtu, 22 Januari 2011

"...hati menginginkan bidadari ketiga, namun logika dan hati mempertahankan bidadari kedua... Dan namun pula, bidadari pertama masih ada sisa kisah dalam hati... Subhanalloh, hanyalah Allah yang mampu merubah segala sesuatunya..."
Tiga bidadari bumi memasuki ruang hati
Ketiganya seolah tercipta untuk dimiliki
Bidadari pertama penuh rahasia di balik sembunyi
Bidadari kedua penuh smbutan hangat di balik jeruji
Bidadari ketiga penuh rahasia, sambutan dan kelembutan sejati
Bidadari pertama...
Tak banyak bertindak
Sekali bertindak sulit ditebak
Seolah tak ingin tertebak
Bidadari kedua...
Banyak bertindak
Sekali bertindak selalu salah
Seolah tak ingin menunjukan kelebihan
Bidadari ketiga...
Banyak bertindak
Sekali bertindak selalu tepat
Seolah tak ingin buat kesalahan
Percaya ataupun tidak, yakin ataupun tidak
Setiap insan memiliki hak tersendiri meyakininya
Namun satu hal keyakinan hanya untuk seorang
Apapun wujudnya, apapun bentuknya dan apapun karakternya
Hal itu sesuatu yang terbaik Menurut-Mu, Ya Robb
Jikalau hal itu telah digariskan Kehendak-Nya Yang Maha Kuasa
Bertindak sesuai Ridho-Nya
Apapun tindakannya berharaplah Ridho-Nya
Jangan mengharap pujian dari Umat-Nya
Akan tetapi berharaplah pujian pada Allah Semata
Ya Allah, Ya Robb
Ingin curhat Pada-Mu, Ya Robb
Bila meminta, berharap ketiga bidadari itu
Sayangnya, tak mampu untuk menyatukannya
Sayangnya, satu pun belum tentu menyanggupinya
Berlaku adil itu sesuatu hal yang sulit untukku
Belum tentu mampu berlaku adil seperti baginda Rasul
Tiada lagi tempat memohon selain Diri-Mu, Ya Robb
Berilah kekuatan pada hamba ini yang penuh keterbatasan
Berilah petunjuk dan hidayah agar tak tersesat Dijalan-Mu
Dan berilah sebuah pilihan bidadari bumi untukku
Yang mampu buatku serasa damai dan nyaman Diridho-Mu
Kuingin terbaik menurutku dan terbaik Menurut-Mu
^___^
Sabtu, 15 Januari 2011

Pelita rasa selalu menyala di dasar hati
Mengalir lembut apa adanya dalam hati
Seperti itulah getar rasa bersemayam dalam hati
Meski terkadang, lain di bibir dan lain pula di hati
Karena hati tak dapat dibohongi
Rasa tersebut kan terungkap dengan sendirinya
Dan siapa yang memiliki ketulusan dan keikhlasan
Itulah rasa yang sesungguhnya dan sebenar-benarnya
Sekalipun hal itu bertahan dalam persembunyian
Dan tak pernah terungkap keberadaannya
Coba bayangkan sebuah taman
Di taman itu terdapat beragam mawar
Dari kuning, putih hingga merah
Mereka semua penuh duri keimanan
Mereka tumbuh subur terlindung duri itu
Jumlah mereka beribu tumbuh di taman
Namun hanya satu mawar jadi idaman
Bunga itu sesekali dilirik...
Dahannya bergoyang
Rantingnya berjatuhan
Daunnya berguguran
Selepas itu bunga disiram...
Bunga menebarkan keharuman
Sungguh rupawan ketika tersenyum
Hati terasa damai dalam kenyamanan
Setegarnya wanita selalu ada sisi manjanya
Feminimnya tanda keindahan dalam dirinya
Dan tutur bahasa lembut adalah senjata pamungkasnya
Wanita tercipta sebagai sosok makhluk terindah
Seutas doa bersandar dalam hati
Berharap setangkai bunga menemani
Temani indahnya taman hati
Rahasia di balik Rahasia-Nya
Tindakan adalah segala sebuah jawaban
Hadapi semuanya penuh tulus dan keikhlasan
Untuk mengharap dan menggapai Ridho-Nya Illahi
^___^
Sabtu, 04 September 2010

Karangan cerita karya: Tira Risyadi
Cerita ini hanya karangan belaka bila ada kesamaan dalam alur cerita kisah ini, itu hanya kebetulan saja...
Setelah menikah, Ridwan dan Farida hidup bahagia. Keluarga baru ini hari-harinya di hiasi penuh dengan kindahan, sebagaimana mestinya umat muslim yang idam-idamkan, ialah keluarga sakinah, mawadah dan warohmah... 2 tahun kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Ridho. Ridho sempat pesantren di salah satu pesantren yang berada di Tasikmalaya... 15 tahun kemudian... Selama mondok di pesantren, Ridho tak pernah menerapkan akhlak dan moralnya dengan baik, bahkan sholat lima waktu pun, tak sepenuhnya ia tunaikan. Terkecuali kalau ia selagi ada di rumah, ia terlihat alim, apapun yang diperintahkan kedua orangtuanya, Ridho tak pernah membangkang, begitupun dengan ibadah sholatnya tak pernah ia tinggalkan selama orangtuanya berada di rumah. Karena ia takut kepada kedua orangtuanya, bukannya takut karena Allah. Ridho bertingkah laku demikian pengaruh lingkungan di sekolahnya, yang saat ini mengenyam bangku SMU. Kota Jakarta adalah pusat perantau dari daerah lain, sehingga segala etnis berbaur satu di kota tersebut. Di mana Jakarta penuh beragam keistimewaan dan pula beragam keburukkannya. Ridho adalah masa remaja labil yang pada dasarnya tengah mencari jati diri yang sesungguhnya, sepertinya ia belum menemukan jati diri yang ideal dalam hidup. Selama di sekolah, Ridho hanya mengenal dunia luarnya penuh dengan kekerasan, brutal dan sifat premanisme. Pada dasarnya warga setempat berpikir, bahwa sekolah tak bisa dijadikan sebagai faktor kesalahan paling utama. Karena yang terpenting adalah pada diri seorang anak itu sendiri, antara terbawa arus ataupun tidak, sebab hidup adalah adaptasi, di mana pun berada jikalau ia memiliki prinsif teguh terhadap ajaran agama, maka takkan terbawa arus dalam lingkungan tidak baik dan takkan mempengaruhi karakter yang ada pada dirinya. Berkali-kali, Ridho sering melihat tawuran antar pelajar dengan seragam sekolah yang lain. Tanpa ia sadari, Ridho pun ikut serta dalam dunia keras tersebut. Tak sedikit, banyak korban hingga meninggal dan luka-luka akibat tawuran tersebut. Namun karena jiwa anak muda yang berapi-api, mereka tak perdulikan apa yang akan terjadi dari akibat itu. Padahal para orangtua mereka banyak mengkhawatirkan dengan adanya tawuran antar pelajar itu, yang berakibat fatal. Suatu ketika sepulang kerja, Ridwan melihat anaknya tengah tawuran. Di tempat kejadian itu, Ridho berlaku liar, seakan ia dalam pertempuran hebat yang mesti dihadapinya. Gesper itu, ia ayunkan berputar berlawanan arah jarum jam, yang telah ia ikatkan dengan bekas gir sepeda motor, sedangkan kawan-kawannya menggunakan alat-alat tajam lainnya, dari samurai, golok, cerulit hingga lemparan-lemparan batu ke arah yang mereka anggap sebagai musuh-musuhnya. Sedangkan para polisi kalangkabut berlarian mengejar-ngejar para pelajar brutal itu. Seketika itu, Ridwan mengerem mobil sedannya tepat dihadapan Ridho. Ridho hanya terdiam malu menatap sorot mata tajam ayahnya itu terhadap dirinya. Setelah itu, Ridho masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, mereka berdua hanya terdiam tanpa ucapkan kata-kata, Ridwan hanya mampu berbisik pada hatinya, "Astaghfirulloh... Mengapa anakku berbuat sesuatu hal yang tidak disukai Allah...?! Ya Tuhan, ampuni hamba dan anakku atas perilakunya yang telah melukai-Mu Ya Robb... Dengan aksinya yang tak terpuji itu." Ridho pun bertanya dalam hatinya, "Kenapa ayah gak menegur dan memarahiku?! Apa aku telah melakukan hal memalukan, hingga ayahku tak berani menegur dan menyapaku?! Entahlah, mungkin ayah lebih tahu bagaimana cara mendidikku!" Lalu sesampai di rumah, Ridwan tak membahas tentang kejadian tadi, bahkan pada Farida pun ia tak memberitahukan hal itu. Namun Farida merasa heran penuh tanda tanya dalam hatinya, "Kenapa mereka berdua pulang bersama?!" Tetapi Farida tak sempat menanyakan hal itu pada Ridwan atau pun anaknya... Di sepertiga malam, Ridwan terbangun dan membangunkan istrinya untuk sholat tahajud. Setelah selesai sholat tahajud, lalu Ridwan berdoa, "Ya Tuhan-ku, ampuni hamba yang gagal mendidik anakku dan jangan Engkau jadikan anakku nasrani, yahudi, atau pun majusi. Jadikan ia anak yang sholeh dan berikanlah dia petunjuk dan hidayah-Mu, hingga di setiap langkahnya senantiasa dalam ridho-Mu... Amin..." Dalam setiap tetes air matanya terselipkan butiran-butiran ketakutan dan kecemasan yang mendalam terhadap anaknya. Setelah berdoa, lalu mereka pun malanjutkan tidurnya, dalam tidurnya selalu terniang di benaknya, "Mengapa anakku berlaku alim di dalam rumah ini, tetapi di luar begitu terlihat liar dan ganas bak seorang penjahat atau pun bandit yang haus akan pertempuran, permusuhan dan pembunuhan." Mengapa Ridwan tak berani membahas kejadian itu, karena ia merasa takut, kalaupun ia mendikte anaknya, ia takut anaknya akan semakin berbuat lebih dari itu. Namun jikalau ia melihat anaknya demikian, maka ia berencana untuk menegur dan menasihatinya tentunya dengan strategi dan lebih bijak lagi untuk mencari jalan yang paling baik. Meskipun ayahnya sudah tahu Ridho berperilaku demikian, tapi untungnya Ridho selamat dari pantauan ayahnya. Karena Ridho selalu berlaku baik apabila sedang di rumah, akan tetapi di luar rumah, sifat buruknya ia kembangkan dengan baik, tanpa sedikitpun kedua orangtuanya tahu. Bahkan ia mulai mendekati dan mengkonsumsi barang-barang haram seperti narkoba... Singkat cerita... Kini Ridho telah menyelesaikan wisudanya dengan gelar sarjana ekonomi. Dengan mendengar kabar ini, orangtua Nadia ingin sekali Ridho tinggal beberapa saat di tempat tinggalnya. Dan Ridho pun menyetujuinya tinggal di tempat almarhummah istri dulu ayahnya. Ibu Nadia menganggap Ridho sebagai cucunya sendiri, sehingga ia berani meminta izin hal itu kepada Ridwan. Padahal perilaku Ridho belum ada perubahan, ia belum meninggalkan sifat dulunya yang tidak baik... Ridwan, Farida beserta kedua orangtua mereka, turut mengantarkan Ridho ke Bandung. Setibanya di Bandung, tepatnya di Bandung Utara, yang asri, sejuk, subur dan pula di tempat tersebut bertaburan pegunungan dan perbukitan nan indah. Mereka di sambut baik oleh orangtua Nadia. Meski dalam kondisi demikian silaturohim antara mereka tak ada putusnya, meskipun sudah tak ada ikatan apapun diantara mereka, tapi temali persaudaraan terasa kental sekali. Selama tinggal di rumah orangtua Nadia. Ridho mengalami perubahan secara perlahan setelah mengenal seorang gadis bernama Fitri yang berparas manis. Ridho mengenal Fitri, karena sering kali melihat Fitri sholat berjamaah di masjid. Ridho pun sempat menanyakan tentang Fitri kepada ibu Nadia, dan ibu Nadia berkata, "Kamu naksir Fitri ya...?!" Sembari ibu Nadia tersenyum lucu atas pertanyaan Ridho itu. Ridho menjawab, "Gak, aku hanya sekedar ingin tahu aja kok, nek..." Ibu Nadia tersenyum kembali seraya berkata, "Fitri anaknya DKM masjid Al-Ikhlas, dan ia pun masih kuliah." Lambat laun Ridwan pun acap kali menunaikan ibadah sholatnya di masjid tersebut, yang kebetulan berdekatan dengan rumah kedua orangtua Nadia. Suatu ketika, Fitri hendak berangkat ke kampus namun Fitri tak sengaja menjatuhkan selembar kertas dan kebetulan Ridho melihatnya di balik jendela. Lantas Ridho mendekati kertas itu yang terjatuh oleh Fitri dan memungutnya. Lembaran itu ada tulisannya, tadinya Ridho tak berani untuk membacaya, namun Ridho merasa penasaran dengan tulisan tersebut, hingga ia membacanya di tempat tidurnya. Tulisan tersebut bertajuk;
SEBUAH HARAPAN INDAH
Ku hanya gadis biasa...
Ku cinta kau karena agama
Ketika agama hilang darimu
Maka lenyaplah cintaku padamu
Ku hanya gadis biasa...
Bisa menangis bisa tertawa
Bisa bersedih bisa bahagia
Hanya sebuah harapan indah
Ku kan bertahan dalam keindahan
Ku kan menjaga keutuhan
Ku kan menjaga kesucian
Ku hanya gadis biasa...
Menanti sebuah harapan indah
Menanti sang pangeran berkuda
Yang sanggup melindungiku
Yang sanggup mempertahankanku
Menjagaku dalam hangat kasih sayangmu
Ku kan sabar menantimu
Ku kan sabar menunggumu
Sebuah harapan indahku...
Fitri Widiyaningsih
Setelah membacanya, Ridho beranggapan kalau Fitri sudah mempunyai idaman hati. Padahal Ridho tahu, ia mulai berubah dan bertaubat karenanya, namun meski demikian Ridho merasa, tak baik kalau cinta itu mesti dipaksakan... Ketika Ridho akan ke masjid untuk sholat dzuhur, tak disengaja melihat seorang nenek-nenek tua renta tengah berjalan menyusuri jalan setapak, yang terlihat tanahnya dalam kemiringan 70 derajat dari permukaan tanah dasar. Nenek-nenek itu berjalan perlahan, selangkah demi selangkah merayap sembari kedua tangannya memegang akar-akar pohon yang melintang di permukaan tanah dalam kemiringan tersebut. Nenek-nenek itu terlihat bersemangat menuruni jalan setapak, saking menginginkannya sholat berjamaah di masjid, walau ia tak peduli bahaya jiwanya di depan mata terbentang. Namun karena keikhlasan hatinya untuk beribadah, ia tak peduli akan membahayakan dirinya, bahkan mukena yang menempel di raganya itu, seakan menggugah gairahnya untuk sholat berjamaah. Sebenarnya nenek-nenek ini, selalu diantar oleh anaknya namun pada saat itu anaknya sedang pergi, serta di rumahnya tidak ada siapapun sehingga nenek itu berinisiatif pergi seorang diri... Lalu Ridho menghampiri nenek tersebut dengan maksud menolongnya, setelah sampai di tujuan, tangan Ridho mengulurkan tangannya kepada seorang nenek itu. Nenek itu tersenyum dan menyambut tangan Ridho itu, dengan mata berbinar-binar penuh rasa bahagia ada yang membantunya. Melihat secuil kebahagiaan yang nampak di wajah nenek-nenek tersebut, Ridho berkata dalam hatinya, "Subhanalloh... Nenek tua ini, begitu bersemangat menjalankan perintah Allah, padahal aku sendiri yang masih muda dan bertenaga, terkadang berleha-leha menegakan sholat... Mungknkah ini sebuah teguran dari Allah, bahwa aku harus benar-benar taubat nasuha... Ya Allah, ampuni hamba dari segala dosa dan terimalah taubatku... Alhamdulillah, wasyukurillah... Engkau telah memberiku hidayah yang begitu luar biasa." Ridho seraya eneteskan air matanya melihat sosok seorang nenek yang begitu kuat tekadna untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid. Sesampai di masjid, lantas nenek itu ucapkan terima kasih kepada Ridho, ia pun tersenyum dan merasaan kebahagiaan bathin yang tiada tara yang diberikan Allah padanya. Dan Ridho pun memehami pengalaman yang barusan tadi, sehingga segala amal baik ibadahnya bukan karena manusia, akan tetapi ikhlas karena Allah SWT. Begitupun makna dari tulisan Fitri yang yang menginginkan cintanya itu ikhlas Lillahi Ta'ala... Beberapa minggu pun berlalu, Ridho pulang kembali ke Jakarta. Di Jakarta ia mulai mengalami perubahan pesat dalam dirinya. Ia sudah meninggalkan kebiasaan buruknya, bahkan ia mengakui taubatnya kepada kepada kedua orangtuanya. Da ia berjanji takkan mengulangi perilaku buruknya di masa lalu. Ridwan dan Farida bersujud syukur atas pengakuan Ridho, karena bagi mereka berdua hal ini adalah anugerah terindah yang telah Allah berikan pada mereka... Di tempat yang berbeda, Fitri mencari-cari selembar kertas yang pernah ia jatuhkan tanpa disengaja dan tanpa ia sadari kertas itu telah hilang, namun hasilnya nihil. Ia tak menemukan selembar kertas itu... Sepulang dari masjid, setelah Fitri sholat berjamaah dan kebetulan satu shaf dan bersebelahan denga ibu Nadia. Lantas ibu Nadia menyusul Fitri agar ia menunggu sebentar di rumahnya, Fitri pun penuh tanda tanya dalam hatinya, "Kenapa, tumben ibu Nadia menyuruhku untuk menunggu!" Setelah 3 menit menunggu, ibu Nadia menghampiri Fitri semabari memberikan sebuah amplop putih polos bertuliskan "Teruntuk Fitri Widiyaningsih". Lalu Fitri bertanya, "Dari siapa?!" Namun ibu Nadia tidak menjawabnya, ia hanya menyuruh Fitri agar pulang ke rumah dan membacanya. Dengan tersenyum , Fitri pamit kepada ibu Nadia dengan penuh rasa malu dan penuh rasa penasaran, apa isi dalam amplop tersebut. Fitri pun lekas memasuki kamarnya, ternyata amplop itu berisikan kertas yang selama ini ia cari-cari. Namun tulisannya sudah ditambahi oleh Ridho dengan tulisan "Maukah aku jadi pangeran berkudamu?" dan di bawahnya lagi dituliskan lagi namanya "Muhammad Ridho bin Ridwan". Setelah membacanya Fitri tersenyum bahagia karena hal itu yang ia harapkan terhadap seorang Ridho... Setahun kemudian, Ridho sudah mempunyai pekerjaan. Dengan penuh kepercayaan, ia memberanikan diri meminta restu kepada kedua orangtuanya bahwa ia ingin melamar Fitri. Setelah tahu maksud niat Ridho. Ridwan bertanya kepada Ridho, "Siapa dia? Dan anak siapa?" Ridho menjawab, "Ia bernama Fitri dan anak dari seorang DKM yang bernama Sobar bin Syukron." Ridwan pun berkata, "Oh, ya... Sobar teman ayah, saat ayah bekerja di Bandung... Baiklah ayah merestui lamaranmu..." Mereka bertiga tersenyum bahagia dengan apa yang diutarakan oleh Ridho. Lantas, Ridwan sekeluarga mendatangi keluarga Sobar untuk melamar Fitri bakal mantunya... Dan setibanya di sana, dari pihak keluarga Sobar pun menyetujui lamaran itu, begitupun dengan Fitri, ia pun menerima lamaran tersebut...
TAMAT

Rasa cinta itu unik
Bergerak sesuka hati
Mengalir lembut tulus
Tiada kira tak terduga
Mampu terobos segala ruang
Di mana mereka pun berada
Takkan jadi kendala
Hubungan bathin pun terjadi
Dari hati ke hati
Seakan tiada batas
Menyusur sela-sela cinta
Menyusur rongga-rongga cinta
Getarkan tiang-tiang asmara
Betapa bodohnya...
Bila cinta tiada disyukuri
Bila cinta tiada kekuatan
Bila cinta tiada perasaan
Betapa pandainya...
Cinta itu menyusur indah
Cinta itu membelai lembut
Cinta itu mengusik hati
Hingga tak mampu menolak fitrah-Mu
Saling mengasihi dan saling menyayangi
Kau taburkan sejuta senyum
Kau sebarkan sejuta santun
Kau tebarkan sejuta lantun
Menggugah gairah hidup
Menggugah gairah ibadah
Penuh niat setulus hati
Penuh niat kebersihan hati
Dengan ikhlas karena Allah
Sujud syukur atas anugerah-Mu
Segala nikmat-Nya tiada terhitung
Segala indah-Nya tiada terbilang
Sungguh tak pantas berburuk sangka
Karena Engkau Maha Segalanya
Sungguh tak pantas agungkan duniawi
Karena Engkau Maha Agung dari Segalanya
Berlaku tiada berlebihan
Dalam bingkai keseimbangan
Itulah makna dari kehidupan
Tak usah mengada-ada
Tak usah menabah-nambahkan
Tak usah memberat-beratkan
Allah berikan semuanya sesuai takaran
Betapa hinanya bila mengatur yang telah ditetapkan
Betapa hinanya bila mengatur yang telah ditentukan
Aturan-aturan Allah dapat dipertanggungjawabkan
Subhanallah, betapa rendahnya diri ini
Bila berlaku takabur, riya dan sombong
Bila berlaku membanggakan diri dengan apa yang dimiliki
Karena yang pantas sombong hanyalah Allah Ta'ala
Dia-lah Maha Kaya, Dia-lah Maha Kuasa
Firman-firman-Nya menyusur indah di setiap kehidupan
Sabda-sabdanya menyusur indah di setiap kehidupan
Bila membaca Surat Cinta-Mu Al-Qur'an
Rinduku pada-Mu semakin menggebu
Rinduku pada Rasul-Mu semakin membara
Duhai Allah, jadikan semua insan taat pada-Mu
Duhai Allah, jadikan semua insan beriman pada-Mu
Dan jangan Kau jadikan kami orang-orang yang kufur kepada-Mu
Amin, Amin, Amin Ya Robbal'alamin
Senin, 02 Agustus 2010

Karangan cerita karya: Tira Risyadi
Cerita ini hanya karangan belaka bila ada kesamaan dalam alur cerita kisah ini, itu hanya kebetulan saja...
Kini Ridwan jalani hidup seorang diri, rumah yang ia tempati hanya dia seorang. Tiada siapapun di rumah itu kecuali Ridwan dan potret almarhummah istrinya, yang masih terpajang rapi di dinding. Sesekali ia sering memandang potret istrinya itu, dengan pandangan penuh rasa rindu yang menyelimuti kenangan indah saat bersamanya. Sehabis sholat Ridwan tak luput berdoa mengalir lembut dari mulutnya, agar istrinya itu di tempatkan sebaik-baiknya tempat di sisi Allah SWT. Apabila Ridwan tengah seorang diri, ia selalu ingat pada istrinya, bahkan sering terucap dalam hatinya, "Andai saja anak yang di kandung istriku tidak ikut bersama ibunya, aku akan mengurus anakku penuh kasih sayang dan ketulusan dalam merawatnya. Dan mungkin aku tak terlalu kesepian dengan jalan hidupku." Setiap alunan bisik hati itu keluar, Ridwan acapkali meneteskan air mata sembari tersenyum penuh rasa puas, meski hal itu sebatas suara dalam hatinya. Dan setiap hendak berangkat kerja, pandangan matanya selalu tertuju pada bingkai foto istrinya sambil tersenyum, bahkan sekalipun tiap pulang kerja, ketika masuk rumahnya yang pertama ditatapnya ialah potret istrinya lagi sembari tersenyum kembali. Seolah-olah rasa kasih sayang dan rindunya tiada pernah putus ia berikan sepenuhnya untuk almarhummah istrinya, tak lekang waktu hingga akhir usianya... Meski Ridwan hidup dalam kesendiriaan, ia tak pernah mengeluh, ia selalu menjalani hidupnya penuh senyuman dan kebahagiaan yang tersembunyi di balik hatinya. Ketika Ridwan jatuh sakit dan setiap Ridwan sakit ia merawat dirinya sendiri. Meski dalam keadaan tubuhnya lemas dan lemah tak bertenaga, walau demikian Ridwan tak pernah mengabaikan kewajibannya untuk menunaikan ibadah sholat, Meski terkadang sholatnya dalam kedaan berbaring di tempat tidurnya. Di rumah Ridwan yang sederhana itu, ia tak mempunyai seorang pembantu maka dari itulah segala sesuatunya dikerjakan sendiri. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, cuci piring, dan cuci bajunya sendiri hingga memasak pun ia lakukan sendiri. Banyak tetangganya yang merasa iba serta kagum kepada sosok seorang Ridwan, bahkan tidak sedikit tetangga yang menawarkan untuk menikah dan mencarikan calon untuknya. Namun setiap saran itu Ridwan selalu berkata bahwa ia masih ingin menjalani hidup sendiri. Dan para tetangga pun bisa memahaminya meski mereka selalu penuh tanda tanya. Kenapa setiap jawaban Ridwan selalu begitu, meski jawabannya selalu demikian, para tetangga tak pernah berprasangka buruk terhadapnya, karena di mata mereka Ridwan itu sosok orang yang baik meski terkadang sedikit aneh. Karena tidak seperti laki-laki pada umumnya yang biasanya, laki-laki yang ditinggalkan oleh istrinya ia akan menikah lagi, sedangkan Ridwan tidak seperti itu. Yang menyarankan untuk menikah lagi ternyata bukan dari tetangga saja, melainkan dari rekan kerjanya, mertuanya, bahkan kedua orang tuanya sendiri, tapi Ridwan selalu menjawab seperti itu... Suatu ketika Ridwan dipindahkan lagi kerjanya ke Jakarta. Saat mengemasi barang-barang bawaanya untuk ke Jakarta, yang ia dahulukan adalah potret istrinya, ia masukan ke kopor bawaanya dengan penuh perasaaan dan secara perlahan-lahan, sesekali ia pandang terus potret tersebut seakan tak pernah jemu untuk memandanginya. Di Jakarta untuk sementara, ia tinggal di rumah kedua orang tuanya, karena Ridwan berencana untuk membangun rumah lagi di sebelah rumah orang tuanya... Saat Ridwan datang ke rumah kedua orang tuanya, kakak-kakaknya Ridwan sudah ada di rumah orang tua Ridwan, mereka menyambut penuh senyum dan kebahagiaan, terkecuali ibunya Ridwan, ia bukannya senang melihatnya anaknya, setibanya dari Bandung. Pada dasarnya ibunya itu bahagia dengan kedatangan Ridwan, namun karena ingat akan kejadiaan masa lalu dalam rumah tangga Ridwan, hingga sang ibu menangis. Lalu Ridwan mencoba untuk mendekati ibunya seraya berkata pada ibunya, "Ibuku tercinta... Kenapa ibu menangis?" Ibunya menjawab, "Ibu hanya ingat almarhummah istrimu... Mestinya kau datang ke sini bersama menantu dan cucuku." Ridwan pun berkata pada ibunya, "Sudahlah, bu... Ini semua udah kehendak Allah dan kita wajib menerimanya dengan ikhlas." Ketika Ridwan berkata demikian, ia sembari mengusap air mata berlinang di kedua pipi ibunya dengan kedua lengannya. Setelah itu ibunya tersenyum pada Ridwan, seakan tangisan itu mesti ditahan agar tidak larut dalam kesedihan... Enam bulan kemudian, rumah baru Ridwan sudah selesai di bangun di samping rumah orang tuanya. Seperti biasanya tiap berangkat dan sepulang kerja, Ridwan tak pernah absen untuk memandang potret istrinya. Karena bagi Ridwan dengan selalu memandang potret istrinya, ia merasa lebih bersemangat lagi dalam menjalani hidupnya. Saat ini beban dalam kesendiriaanya sedikit berkurang karena ia tinggal bersebelahan dengan rumah orang tuanya... Secara bersamaan pula, ternyata Farida tidak mempunyai kanker otak lagi, ia berhasil dioprasi oleh para medis di rumah sakit Singapura. Namun kabar hal ini, tidak banyak orang lain tahu termasuk Ridwan begitupun kedua orang tuanya... Di suatu hari, ibu Ridwan tak pernah berhenti memberi saran pada Ridwan, agar ia menikah lagi dengan alasan tidak baik menjalani hidup seorang diri , karena itu perlu seorang pendamping, namun Ridwan selalu menjawab kalau ia ingin hidup sendiri dengan alasan demi mempertahankan cinta utuhnya terhadap almarhummah istrinya. Ibunya sangat memehami karakter anaknya, ia pun segera berpaling dari hadapan Ridwan, lalu masuk ke kamarnya sembari meneteskan air mata dan berdoa agar Ridwan menikah lagi dan segera punya cucu darinya. Ibunya berdoa demikian, karena ia sangat menginginkan cucu dari anak terakhirnya yaitu Ridwan. Dan doa itu selalu terniang sehabis ibunya sholat. Berdoa seperti itu bukan hanya ibunya Ridwan saja, bahkan mertua ibunya almarhummah Nadia. Saking sayang terhadap Ridwan seperti anaknya sendiri, ibu Nadia pernah bilang pada Ridwan, seandainya Nadia punya adik perempuan, mungkin akan dinikahkan dengan Ridwan, tapi nyatanya Nadia tidak mempunyai seorang adik perempuan. Ketika ibu Nadia bilang demikian, Ridwan hanya sanggup tersenyum saja pada ibunya Nadia, tanpa ucapkan sepatah kata pun... Suatu ketika, secara diam-diam ibu dan ayah Ridwan bersilaturohim ke rumah Farida. Dan ibu Farida sudah tahu tentang kabar Farida, hingga Farida saat ini sudah sembuh total dari kanker otaknya dan ia juga belum menikah, akan tetapi setahun yang lalu sudah bertunangan dengan pemuda bernama Mukhlis asal Bandung yang bekerja di Jakarta. Namun Mukhlis mengalami kecelakaan saat mengemudi kendaraannya tertabrak oleh mobil bus, hingga ia meninggal dunia. Saat mendengarnya ibu dan ayah Ridwan turut berduka cita atas kejadian itu... "Namun sayang sekali meski demikian, lagipula Ridwan belum tentu akan menikah lagi." Bisik ibu Ridwan dalam hatinya. Farida pun mulai tahu tentang keadaan Ridwan. Ia tahu dari ibu Ridwan yang menceritakan semuanya kepada ibu Farida dan juga Farida. Lalu ibunya Ridwan bertanya kepada Farida, "Apakah nak Farida, masih mencintai anakku Ridwan?" Farida tersipu malu, bahkan ia tak menjawabnya, malahan Farida hanya memberi senyuman pada ibunya Ridwan. Dan setelah itu ibunya Ridwan, tak membahasnya lagi karena hal itu masalah pribadi Farida. Setelah berbincang-bincang cukup lama dan penuh dengan suka cita antara ibunya Ridwan dan ibunya Farida. Lalu ibu dan ayah Ridwan berpamitan untuk pulang... Ketika Ridwan sepulang kerja, ibunya Ridwan menghampiri Ridwan dan bertanya padanya, "Bagaimana kalau kamu menikah dengan Farida?" Saat mendengarnya, kala itu Ridwan tengah mereguk teh hangat buatannya sendiri, ketika meminum teh hangat dalam cawan berwarna hitam pekat, lalu Ridwan melirik ibunya tanpa melepaskan cawan itu dari bibirnya. Mungkin karena Ridwan merasa sesutau hal yang aneh, karena selama ini nama itu tak pernah ingat lagi di benaknya. Hingga saat mendengar nama itu, Ridwan tak menjawab apapun pada ibunya. Ia hanya bilang pada ibunya, kalau dia meminta izin untuk mandi, setelah keringat yang nempel di tubuhnya selama pulang kerja, membuat ia merasa tak nyaman. Ibunya merasa heran dan bicara dalam hatinya, "Kenapa saat bilang nama Farida... ia tak menjawab apapun, padahal setiap disebut nama lain, ia selalu bilang begitu dan begitu! Apakah mungkin anakku masih menyukai Farida?! Entahlah hanya anakku yang tahu! Tapi, sudahlah aku tak perlu membahasnya lagi, takutnya anakku bertambah sedih dengan keadaanya sekarang." Ibunya bicara dalam hatinya seperti itu, karena ia takut menambah beban anaknya, hingga ibunya merasa tak perlu membahas soal pernikahan lagi pada Ridwan. Yang terpenting jikalau dia merasa senang dalam kesendirian, ibunya turut bahagia... Suatu ketika pada hari minggu, kedua orang tua Farida serta Farida berkunjung ke rumah orang tua Ridwan. Dengan maksud bertujuan hendak menikahkan Farida dengan Ridwan, agar Ridwan tidak lagi menjalani hari-harinya seorang diri. Setelah itu Ridwan dan Farida mengobrol secara empat mata. Ridwan pun bertanya pada Farida, "Kenapa kamu ingin menikahiku?" Lalu Farida tersenyum dan menjawabnya, "Karena aku tahu tentang dirimu...! Andai saja aku tak melakukan hal ini, pasti hidupmu akan terus dilalui dengan kesendirian. dan aku tahu, dirimu berniat tak ingin menikah lagi, karena kamu berniat setia dunia akhirat terhadap almarhummah istrimu." Farida tahu tentang Ridwan begitu, karena ibu Ridwan pernah menceritakan pada Farida. Dan saat itu juga, Ridwan menanyakannya tentang hal itu, lalu Farida pun menjelaskannya bahwa ia pernah bertemu dengan ibunya Ridwan. Lalu Farida berkata pada Ridwan, "Kenapa saat itu kamu gak bertanya padaku?! Apakah aku ingin dipolygami? Andai saja kamu berkata demikian... Maka aku akan menjawabnya saat itu juga dengan kata "ya"... Tapi saat itu kamu tidak menanyakannya padaku..." Setelah mendengarnya, Ridwan hanya tersenyum kagum terhadap Farida. Ridwan bertanya pada Farida, "Kenapa kalau sudah tahu aku ingin setia dunia akhirat, kamu malah hendak ingin melemar dan menikahiku?" Farida menjawab, "Kamu boleh menikahiku dengan batasan tertentu, yaitu aku bisa memiliki dirimu secara halal hanya di dunia saja, sedangkan di akhirat kelak hanya milik anakmu dan istrimu." Ridwan terdiam sejenak dan terpaku dengan ucapan Farida itu. Karena Ridwan tak sedikitpun mengira Farida akan berkata demikian padanya. Setelah termenung sejenak Ridwan berkata, "Aku mau menikah denganmu dengan syarat, kau juga boleh tinggal di akhirat kelak. Insya Allah, Amin Ya Robbal 'alamin..." Lalu mereka berdua tersenyum indah penuh kebahagiaan....
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)
